Kisah Warga Pegunungan Pakistan Ramadhan di Tengah Kegelapan

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Dwi Murdaningsih

 Jumat 07 May 2021 05:46 WIB

Seorang jamaah Muslim shalat sambil menjalankan Itikaf, yang mengharuskan tinggal menyendiri di masjid untuk membaca Alquran dan sholat selama 10 hari terakhir bulan puasa Ramadhan, di Masjid Agung Faisal, di Islamabad, Pakistan, Senin, 3 Mei , 2021. Foto:

Pemadaman listrik harian terus berlangsung sampai 20 jam atau lebih.

Salah seorang warga dari distrik Ghanche, Ghulam Nabi Sanai mengatakan tidak ada listrik di desanya. “Kami mendaftarkan keluhan tentang tidak adanya listrik tapi tidak ada pejabat departemen listrik yang mendengar kami,” kata Sanai, dilansir Arab News, Jumat (7/5).

Selama beberapa hari terakhir, warga kampung halamannya sudah menyiapkan dan menyantap buka puasa dan sahur dalam kegelapan. Pembangunan pembangkit listrik baru dalam skala besar terutama yang berbahan bakar batu bara telah secara dramatis meningkatkan kapasitas energi Pakistan dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun pasokan melonjak, menurut laporan Bank Dunia 2018, tenaga listrik masih belum menjangkau hingga 50 juta orang di Pakistan yang membutuhkannya.

Pemadaman listrik sering terjadi
Penjahit di Ghance, Sher Ali Rana mengatakan biasanya dia menjahit sekitar 400 pakaian untuk Idul Fitri. Akan tetapi pada tahun ini, dia hampir tidak bisa membuat 150 gaun karena kekurangan listrik.

“Komunitas penjahit kami harus menghadapi pemadaman listrik setiap tahun dan tahun ini yang terparah. Tidak ada listrik selama 24 jam,” kata Rana. Penduduk setempat di banyak distrik lain, termasuk Skardu dan Gilgit juga mengeluh pemadaman listrik yang memburuk telah melumpuhkan kehidupan sehari-hari mereka.

Insinyur Eksekutif di Departemen Listrik Gilgit-Baltistan, Riaz Ali menyebut masalah utama pasokan listrik terletak di sistem kelistrikan yang tidak sepenuhnya terhubung ke jaringan nasional. Kapasitas produksi yang rendah dari pembangkit listrik yang ada adalah masalah lain.

Kapasitas pembangkit di musim dingin 92 megawatt sedangkan kebutuhannya 452 megawatt. Di musim panas, kapasitas pembangkitan 122 megawatt dibandingkan dengan permintaan 132. Namun, insinyur tersebut mengatakan dia berharap proyek-proyek baru yang dijanjikan di bawah CPEC akan menyelesaikan krisis listrik di kawasan itu untuk selamanya.

“Jika proyek besar diluncurkan, Gilgit-Baltistan berpotensi menghasilkan lebih dari ribuan megawatt listrik,” ucap dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X