Senin 14 Mar 2022 07:15 WIB

AS Desak Israel Jatuhkan Sanksi pada Rusia

As meminta Israel untuk menjatuhkan sanksi terhadap Rusia

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani
Tank Rusia yang hancur telihat di jalan utama di Brovary, di utara Kiev, Ukraina. Amerika Serikat (AS) meminta Israel untuk menjatuhkan sanksi terhadap Rusia atas operasi militernya di Ukraina.
Foto: AP Photo/Felipe Dana
Tank Rusia yang hancur telihat di jalan utama di Brovary, di utara Kiev, Ukraina. Amerika Serikat (AS) meminta Israel untuk menjatuhkan sanksi terhadap Rusia atas operasi militernya di Ukraina.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Amerika Serikat (AS) meminta Israel menjatuhkan sanksi terhadap Rusia atas operasi militernya di Ukraina. Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Politik Victoria Nuland menyerukan kepada seluruh negara menjatuhkan sanksi kepada Rusia.

"Kami meminta sebanyak mungkin negara bergabung (menjatuhkan sanksi bagi Rusia). Termasuk juga Israel. Anda tidak ingin menjadi surga terakhir bagi uang kotor yang mendorong (Presiden Rusia Vladimir) Putin melakukan perang," ujar Nuland, dilansir Middle East Monitor, Senin (14/3/2022).

Baca Juga

Nuland mengatakan, AS meminta semua negara demokrasi di dunia untuk menegakkan sanksi keuangan dan ekspor kepada Rusia. "Kita perlu menekan rezim, oligarki di sekitarnya, dan ekonominya. Dalam konteks ini, kami meminta sebanyak mungkin negara untuk bergabung dengan kami. Kami juga meminta Israel untuk melakukannya," kata Nuland.

Lebih dari 2,5 juta orang telah melarikan diri ke negara lain, sejak Rusia melancarkan operasi militer di Ukraina pada 24 Februari. Selain itu, sekitar 2 juta lainnya mengungsi di dalam negeri. Menurut perkiraan PBB, setidaknya 564 warga sipil tewas dan 982 lainnya terluka di Ukraina.

Uni Eropa, AS, dan beberapa negara lainnya telah memberlakukan sanksi terhadap Moskow. Selain itu, sebagian besar perusahaan dan merek global juga menangguhkan operasi di Rusia.

Sebelumnya Menteri Luar Negeri Israel Yair Lapid mengecam invasi Rusia ke Ukraina. Ia meminta Moskow segera menghentikan serangan dan mengakhiri konflik.

Kritik Lapid, Ahad (13/3/2022) merupakan pernyataan paling keras pejabat Israel terhadap Rusia sejak Presiden Putin menggelar "operasi militer khusus" ke Ukraina. Pernyataan Lapid, terpisah dari Perdana Menteri Naftali Bennett yang menahan diri untuk mengecam Rusia.

Israel berada dalam posisi paling dilematis dalam invasi Rusia ke Ukraina. Bennett memang sudah menyampaikan dukungannya pada rakyat Ukraina, dan Israel juga telah mengirimkan bantuan kemanusiaan ke negara tersebut.

Israel mengandalkan Rusia dalam koordinasi keamanan di Suriah. Militer Rusia aktif di negara Timur Tengah tersebut. Sementara pesawat-pesawat Angkatan Udara Israel kerap melepaskan tembakan ke target-targetnya seperti fasilitas Iran di Suriah.

Israel memiliki hubungan sangat kuat dengan Rusia maupun Ukraina. Israel juga sekutu dekat AS di Timur Tengah. Sementara Washington pendukung terkuat Ukraina dalam menghadapi Rusia.

Baca juga : Anwar Abbas Tegaskan Fatwa Halal Produk Masih Tanggung Jawab MUI

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement