Thursday, 18 Syawwal 1443 / 19 May 2022

Diplomat Ukraina: Kemungkinan Perang Kecil

Rabu 26 Jan 2022 15:00 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Friska Yolandha

Foto yang diambil Kamis, 20 Januari 2022, seorang tentara membawa paket di garis pperbatasan di wilayah Donetsk, Ukraina. Duta Besar Ukraina untuk Jepang Sergiy Korsunsky mengatakan negaranya akan terus mengejar solusi diplomatik dalam ketegangan yang terjadi saat ini dengan Rusia.

Foto yang diambil Kamis, 20 Januari 2022, seorang tentara membawa paket di garis pperbatasan di wilayah Donetsk, Ukraina. Duta Besar Ukraina untuk Jepang Sergiy Korsunsky mengatakan negaranya akan terus mengejar solusi diplomatik dalam ketegangan yang terjadi saat ini dengan Rusia.

Foto: AP Photo/Andriy Dubchak
Ukraina terus mengejar solusi diplomatik dalam ketegangan yang terjadi dengan Rusia.

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Duta Besar Ukraina untuk Jepang Sergiy Korsunsky mengatakan, negaranya akan terus mengejar solusi diplomatik dalam ketegangan yang terjadi saat ini dengan Rusia. Menurut dia, kemungkinan perang skala penuh kecil walaupun mungkin terdapat konflik kecil.  

Korsunsky memperingatkan serangan pada negara yang memiliki lebih dari selusin reaktor nuklir akan menyebabkan dampak yang menghancurkan di Eropa.

Baca Juga

"Saya yakin, perang skala besar, sangat, sangat, sangat kecil kemungkinannya, tapi kami mungkin akan melihat konflik lokal," kata Korsunsky dalam konferensi pers di Tokyo, Rabu (26/1/2022).

"Bila kita membahas mengenai militer, saya beri tahu Anda, kami sangat siap, angkatan bersenjata kami dipersiapkan dengan sangat baik," katanya.

Rusia menumpuk puluhan ribu pasukan di sepanjang perbatasan dengan Ukraina. Negara-negara Barat khawatir Moskow berencana melancarkan serangan ke negara yang mereka invasi pada 2014 untuk menganeksasi Semenanjung Krimea.

Pada Selasa (25/1/2022) Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengatakan ia akan mempertimbangkan sanksi pribadi pada Presiden Vladimir Putin bila Rusia menginvasi ukraina. Pemimpin-pemimpin negara Barat meningkatkan persiapan mereka dan berencana melindungi Eropa dari potensi kekurangan pasokan energi.

"Bila perang terjadi, yang mana pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, perang melawan negara yang memiliki 15 reaktor nuklir di wilayahnya, yang memiliki 30 ribu kilometer pipa gas dan minyak, yang penuh dengan gas dan minyak," kata Korunsky.

"Bila infrastruktur-infrastruktur ini hancur, tidak ada lagi Ukraina, tapi itu hanya satu konsekuensi, tidak akan ada lagi Eropa Tengah dan mungkin Eropa Barat juga akan terdampak," katanya.

Insiden reaktor nuklir Chernobyl pada 1986 di wilayah yang kini Ukraina mengakibatkan jutaan ton limbah nuklir naik ke atmosfer. Lalu menyebarkan radioaktivitas di seluruh kontinen dan menyebabkan lonjakan angka pasien kanker di wilayah terdekatnya.

Duta Besar Rusia untuk Australia Alexey Pavlovksy mengatakan, Rusia tidak berencana menginvasi Ukraina. "Kami sama sekali tidak berniat menginvasi," kata Pavlovksy di stasiun radio Australian Broadcasting Corporation.

"Tentara-tentara kami di perbatasan, pasukan ini bukan ancaman, mereka peringatan, peringatan pada penguasa Ukraina untuk tidak mencoba petualangan militer yang ceroboh," katanya.

“Mengenai sanksi, saya pikir sekarang semua orang harus mengerti bahwa itu bukan bahasa yang harus digunakan ketika berbicara dengan Rusia. Sanksi tidak berfungsi,” ujarnya.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA