Saturday, 20 Syawwal 1443 / 21 May 2022

Kurang Literasi Buat Banyak Orang Salah Kaprah tentang NFT

Rabu 26 Jan 2022 14:51 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani / Red: Dwi Murdaningsih

Ilustrasi NFT.

Ilustrasi NFT.

Foto: Www.freepik.com
Kurangnya literasi membuat banyak orang yang salah menafsirkan tentang apa itu NFT.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Salah satu marketplace non-fungible token (NFT), OpenSea, saat ini makin populer di Indonesia. Hal itu tak terlepas dari ramainya pemberitaan tentang Sultan Gustaf Al Ghozali, mahasiswa asal Semarang. Di platform tersebut, Ghozali menjual NFT berupa swafotonya yang diambil selama lima tahun terakhir dan sukses meraup miliaran rupiah.

Warganet lain pun mencoba mengejar peruntungan serupa dengan menjual NFT di OpenSea. Namun, mereka tidak hanya menjual karya seni, ada yang menjual menu makanan Indonesia juga seperti ayam geprek dan seblak. Bahkan, ada juga yang menjual baju dan kartu tanda pen duduk (KTP).

Baca Juga

Seketika, OpenSea yang awalnya merupakan platform untuk memasarkan karya seni digital pun berubah bak platform belanja daring. Chairwoman Asosiasi Blockchain Indonesia (ASBI) Asih Karnengsih menanggapi fenomena yang terjadi di OpenSea.

Menurut Asih, hal tersebut terjadi karena pemahaman mengenai apa itu NFT masih sangat minim. Jadi, orang menganggap NFT itu seperti seakan-akan bisa menjual apa pun yang tadinya tidak berharga menjadi berharga.

Padahal, menurut Asih, NFT itu memiliki makna yang lebih. Dia memberi penggambaran singkatnya seperti membuat hak cipta terhadap suatu karya atau suatu aset digital yang dibuat oleh seseorang. "Jadi, sesuatu yang seperti digital, kita NFT-kan atau kita buat dalam bentuk NFT, dalam arti kita patenkan bahwa ini adalah karya saya," kata Asih saat dihubungi Republika, pekan lalu.

Menurut dia, akan jadi tidak sesuai dengan karakter asli NFT apabila kemudian yang dijual adalah makanan dan KTP. "Aku rasa anomali ini disebabkan karena kurangnya literasi, kurangnya pemahaman, dan kembali ini karakter di setiap negara. Rasanya tidak hanya di Indonesia saat ada sesuatu yang baru dan menarik akhirnya coba-coba," ujarnya.

Selain kurangnya literasi, mengikuti tren bisa menjadi penyebab anomali tersebut. Menurut dia, karena masih bagian dari dunia kripto, harga yang sewaktu-waktu bisa melonjak tinggi juga menjadi salah satu penyebab OpenSea menarik perhatian banyak orang.

 

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA