Saturday, 15 Muharram 1444 / 13 August 2022

Kemenko Marves: Kebocoran Sampah ke Laut Turun 15 Persen

Rabu 15 Dec 2021 00:06 WIB

Red: Nidia Zuraya

Wisatawan berjalan di dekat tumpukan sampah yang berserakan di sepanjang Pantai Berawa, Kuta Utara, Badung, Bali, Ahad (12/12/2021). Sampah tersebut terbawa arus laut yang kemudian terdampar sehingga mencemari kawasan pariwisata.

Wisatawan berjalan di dekat tumpukan sampah yang berserakan di sepanjang Pantai Berawa, Kuta Utara, Badung, Bali, Ahad (12/12/2021). Sampah tersebut terbawa arus laut yang kemudian terdampar sehingga mencemari kawasan pariwisata.

Foto: ANTARA/Nyoman Hendra Wibowo
Pengurangan kebocoran sampah ke laut ini masih jauh dari target.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) menyatakan, sepanjang 2018-2020 jumlah kebocoran sampah ke laut menurun sebesar 15,3 persen."Dalam dua tahun ini angka sudah kita hitung dan simulasikan, bahwa in general (secara umum) kita sudah bisa mengurangi 15,3 persen masuknya sampah ke laut," kata Asisten Deputi Pengelolaan Sampah dan Limbah Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) Rofi Alhanif di Jakarta, Selasa (14/12).

Rofi menyebut capaian 15 persen dalam dua tahun memang masih jauh dari target pengurangan sampah laut hingga 70 persen pada 2025 mendatang. Terlebih, kebocoran sampah plastik yang utama masih bersumber dari darat.

Baca Juga

"Targetnya memang ambisius tapi harus dikejar semampu kita. Saya yakin kalau kita lakukan aksi serentak bagaimana kurangi sampah, insya Allah bisa kita capai," imbuhnya.

Indonesia menargetkan pengurangan sampah laut hingga 70 persen pada 2025 sebagaimana target yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Laut. Setidaknya ada lima Rencana Aksi Nasional (RAN) untuk mewujudkan target tersebut, antara lain gerakan nasional untuk meningkatkan kesadaran pemangku kepentingan; pengelolaan sampah di darat; pengelolaan sampah di wilayah pesisir dan laut; mekanisme pendanaan, penguatan kelembagaan, pengawasan dan regulasi; serta penelitian dan pengembangan.

"Kita saat ini baru di sisi hulu, soal bagaimana menangani sampah. Tetapi kita lupa bahwa kita lupa sampah yang datang jauh lebih besar. Ibarat bak mandi, kita hanya kosongkan dengan gayung kecil, tapi airnya tetap masuk dengan jumlah lebih besar. Tetap saja sampahnya meluber. Maka selain menangani dan mengurangi juga harus menutup sumber sampah yang masuk ke laut," katanya.

Kepala Sub Bidang Barang dan Kemasan Direktorat Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Ujang Solihin Sidik mengatakan berdasarkan total sampah laut Indonesia mencapai hampir 1,2 juta ton per tahun. Namun, angka Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut di lapangan mencatat jumlahnya maksimal mencapai 500an ribu ton.

"Ini masih banyak juga. Tapi dari 2018 hingga 2020, sudah terjadi penurunan 15,3 persen sampah laut dari hasil hitungan dan simulasi yang dilakukan tim pelaksana dari 56 aktivitas rencana aksi yang ada di Perpres 83/2018. Targetnya masih panjang," kata Ujang.

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA