Tuesday, 15 Jumadil Akhir 1443 / 18 January 2022

Tuesday, 15 Jumadil Akhir 1443 / 18 January 2022

Pakar Menduga Sudah Terjadi Penularan Omicron di Masyarakat

Sabtu 04 Dec 2021 11:21 WIB

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Christiyaningsih

Penumpang, beberapa memakai masker, menunggu taksi mereka meninggalkan pangkalan taksi Baragwanath di Soweto, Afrika Selatan, Kamis 2 Desember 2021. Afrika Selatan meluncurkan kampanye vaksinasi yang dipercepat untuk memerangi peningkatan dramatis dalam kasus COVID-19 yang dikonfirmasi seminggu setelah varian omicron terdeteksi di negara tersebut.

Penumpang, beberapa memakai masker, menunggu taksi mereka meninggalkan pangkalan taksi Baragwanath di Soweto, Afrika Selatan, Kamis 2 Desember 2021. Afrika Selatan meluncurkan kampanye vaksinasi yang dipercepat untuk memerangi peningkatan dramatis dalam kasus COVID-19 yang dikonfirmasi seminggu setelah varian omicron terdeteksi di negara tersebut.

Foto: AP/Jerome Delay
Berbagai negara mendeteksi Omicron pada orang tanpa riwayat ke Afrika bagian selatan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Mantan direktur penyakit menular WHO Asia Tenggara Prof. Tjandra Yoga Aditama mengatakan per Jumat (3/12) sudah ada lebih dari 30 negara yang melaporkan adanya kasus Covid-19 dengan varian Omicron.

"Dr Soumya Swaminathan Chief Scientist WHO (mantan Kepala India Council of Medical Research - ICMR) menyebut sampai 3 Desember 2021 sudah ada 38 negara yg melaporkan kasus Omicron," ujar Tjandra dalam keterangannya, Sabtu (4/12).

Baca Juga

Sementara European CDC menyampaikan per Jumat (3/12) ada 35 negara dunia yang sudah melaporkan 486 kasus Omicron. Beberapa negara seperti Belgia Jerman, Spanyol, Australia, dan Inggris juga sudah mendeteksi kasus tanpa kaitan epidemiologik dengan negara terjangkit.

"Artinya mereka tidak ada riwayat perjalanan ke sana dan juga tidak ada kontak dengan kasus positif Omicron. Ini mengindikasikan mungkin saja sudah terjadi penularan di masyarakat dari varian Omicron, sesuatu yang amat perlu diwaspadai dari kacamata penyebaran epidemiologik," terang Tjandra.

Informasi dari laman PBB juga menyebutkan terjadi peningkatan kasus Covid-19 di Afrika Selatan dengan semua jenis varian sekitar 311 persen pada sepekan terakhir November dibandingkan sepekan sebelumnya. Selain itu, juga ada peningkatan angka masuk RS sebesar 4,2 persen di Provinsi Gauteng tempat kota Johanesburg, Afrika Selatan.

"Data lain dari Afrika Selatan (untuk semua varian, bukan hanya Omicron) per Kamis (1/12) meningkat 8.561 dari 3.402 kasus pada 26 November," rinci Tjandra

Tak hanya itu, untuk angka reproduksi (R) juga meningkat. South Africa’s National Institute for Communicable Diseases (NICD) menyebutkan angka R Afrika Selatan di atas 2 untuk di provinsi Gauteng. Sementara Jurnal Kedokteran internasional terkemuka Lancet pada Jumat (3/12) kemarin menyampaikan di Afrika Selatan jumlah kasus Covid-19 rata-rata per hari adalah 280 orang pada saat sebelum Omicron ditemukan.

"Angka ini naik menjadi sekitar 800 orang per hari di pekan berikutnya, tetapi ini mungkin karena peningkatan surveilans," kata Tjandra.

Omicron mengandung delesi dan lebih dari 30 mutasi, sebagian di antaranya seperti 69–70del, T95I, G142D/143–145del, K417N, T478K, N501Y, N655Y, N679K, dan P681H yang serupa dengan mutasi pada varian Alpha, Beta, Gamma, atau Delta. Delesi dan mutasi ini diketahui mungkin menyebabkan peningkatan angka penularan, peningkatan viral binding affinity, dan juga peningkatan luput dari antibodi.

"Juga ada mutasi-mutasi lain yang dampaknya belum sepenuhnya diketahui, apalagi kalau dikombinasikan dengan-mutasi yang sudah pernah ditemukan di VOC yang lain," tutur Tjandra.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA