Monday, 22 Syawwal 1443 / 23 May 2022

...

Kembalinya Xavi ke Barcelona, Antara Bimbang dan Asa

Senin 08 Nov 2021 07:49 WIB

Rep: Reja Irfa Widodo/ Red: Endro Yuwanto

Xavi Hernandez.

Xavi Hernandez.

Foto: EPA-EFE/ABEDIN TAHERKENAREH
Xavi Hernandez bisa dibilang masih bau kencur dalam dunia kepelatihan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Era baru Barcelona seolah sudah dimulai, bahkan sebelum sang pemberi harapan itu resmi diperkenalkan kepada publik di Stadion Camp Nou. La Blaugrana sudah mencatatkan keunggulan tiga gol saat laga lawatan ke markas Celta Vigo baru menginjak menit ke-34, Ahad (7/11) dini hari WIB.

Kurang dari 24 jam setelah Barcelona resmi mengumumkan perekrutan Xavi Hernandez sebagai pengganti Ronald Koeman di kursi pelatih, Memphis Depay dan kawan-kawan langsung menunjukkan sinyal kebangkitan via performa apik pada setengah jam pertama laga pada pekan ke-13 La Liga Spanyol tersebut.

Baca Juga

Namun, keunggulan tiga gol pada babak pertama dibuang percuma oleh Barca. Tim tuan rumah mampu bangkit dan akhirnya menutup laga dengan skor imbang, 3-3.

Barca memang belum stabil. Kendati begitu, ada antusiasme dan optimisme besar menyusul penunjukan Xavi sebagai pelatih anyar menggantikan Ronald Koeman. Latar belakang personal dan cerita sukses pelatih berusia 41 tahun itu saat masih merumput bersama Blaugrana menjadi pangkal dari antusiasme tersebut.

Xavi menjadi simbol asa dari upaya Barcelona untuk keluar dari krisis dan keterpurukan, terutama performa di atas lapangan. Secara khusus, pemain yang mempersembahkan 25 trofi bergengsi selama 17 tahun memperkuat tim utama Barcelona itu dianggap sebagai pewaris dari gaya dan identitas permainan Barcelona, tiki-taka.

Xavi adalah metronom permainan Barcelona yang bergelimang sukses kala di bawah kendali Pep Guardiola pada 2008-2012. Jebolan La Masia itu dinilai menjadi penerjemah terbaik dari modifikasi gaya permainan tiki-taka yang diusung Guardiola di atas lapangan. Seperti halnya saat Guardiola menjadi penerjemah taktik dan strategi yang diterapkan Johan Cruyff dalam enam tahun terakhirnya membesut Barcelona.

Visi bermain dan obsesi Xavi terhadap penguasaan bola serta memanfaatkan ruang sekecil mungkin di lini belakang lawan diharapkan bisa ditransmisikan kepada para penggawa Barca saat dirinya berdiri di pinggir lapangan. Namun, Xavi akan mewarisi Barcelona yang benar-benar berbeda dibanding yang terakhir kali dia ingat.

Koeman seolah mencabut Barcelona dari identitas permainannya. Pelatih asal Belanda itu sempat berkilah tidak memiliki pemain yang cukup mumpuni untuk bisa menerapkan gaya permainan tiki-taka. Kendati begitu, ini semata-mata bukan soal opsi pemain di tim utama, melainkan kemampuan dan pemahaman Koeman dalam menerjemahkan filosofi permainan Barca.

Belum lagi langkah kontroversi Koeman mencoret sejumlah pemain yang sebenarnya masih memiliki kemampuan. Ketidakmampuannya dalam menjaga hubungan dengan para pemain senior membuat suasana ruang ganti Blaugrana dikabarkan tidak kondusif.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA