Wednesday, 22 Safar 1443 / 29 September 2021

Wednesday, 22 Safar 1443 / 29 September 2021

Segala Upaya Dikerahkan, Angka Kematian Masih Sulit Ditekan

Kamis 29 Jul 2021 19:05 WIB

Red: Andri Saubani

Petugas mengangkat peti jenazah Covid-19 dibantu alat berat di pemakaman khusus Covid-19, Macanda, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Selasa (27/7/2021). Satgas Penanganan Covid-19 mengungkapkan, bahwa jumlah kematian Covid-19 pada Juli 2021 adalah yang tertinggi selama pandemi. (ilustrasi)

Petugas mengangkat peti jenazah Covid-19 dibantu alat berat di pemakaman khusus Covid-19, Macanda, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Selasa (27/7/2021). Satgas Penanganan Covid-19 mengungkapkan, bahwa jumlah kematian Covid-19 pada Juli 2021 adalah yang tertinggi selama pandemi. (ilustrasi)

Foto: ANTARA FOTO/ABRIAWAN ABHE
Jumlah kematian Covid-19 pada Juli 2021 merupakan yang tertinggi selama pandemi.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Dessy Suciati Saputri, Arie Lukihardianti, Ronggo Astungkoro, Antara

Juru Bicara Pemerintah Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, pemerintah terus meningkatkan kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) di berbagai daerah menyusul lonjakan kasus kematian yang terus menerus terjadi. Meskipun berbagai upaya telah disiapkan, namun masih terjadinya peningkatan kasus kematian saat ini harus menjadi evaluasi pemerintah.

“Namun, masih terjadinya peningkatan kematian ini tentunya perlu untuk terus dievaluasi,” kata Wiku saat konferensi pers, Kamis (29/7).

Wiku mengatakan, berbagai upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk menekan angka kematian ini yakni dengan menambah tempat isolasi terpusat dan rumah sakit lapangan. Satgas mencatat penambahan tempat isolasi terpusat dan rumah sakit lapangan ini hingga sebanyak 868 tempat tidur di Banten, 17.594 tempat tidur di DKI Jakarta, 4.310 tempat tidur di Jawa Barat, 6.089 tempat tidur di Jawa Tengah, 2.031 tempat tidur di DI Yogyakarta, 7.339 tempat tidur di Jawa Timur, dan 1.001 tempat tidur di Bali.

Selain itu, pemerintah juga memberikan bantuan ke rumah sakit berupa tenda serbaguna, toilet portable, fold bed, dan selimut.

“Penambahan pasokan oksigen berupa lebih dari 1.000 ton oksigen dari hibah dalam dan luar negeri, pengelolaan truk armada untuk menyalurkan oksigen, dan penyaluran 3.825 oksigen konsentrator,” tambah Wiku.

Pemerintah juga meningkatkan suplai obat-obatan di rumah sakit dan memberikan paket gratis obat untuk masyarakat yang sedang melakukan isolasi mandiri. Untuk membantu penanganan pasien di rumah sakit, pemerintah juga berencana menambah tenaga kesehatan dari perawat yang belum mengambil uji kompetensi dan dokter yang telah selesai internship.

Wiku menyampaikan, jumlah kematian yang terjadi pada Juli ini merupakan yang tertinggi selama pandemi di Indonesia. Hingga kemarin terdapat total 30.168 kematian pada bulan ini. Angka ini sangat tinggi mengingat pada sebelumnya kasus kematian tertinggi yang tercatat pada Juni lalu sebesar 7.913 kasus.

“Jumlah kematian di Juli ini menjadi bulan dengan jumlah kematian yang paling banyak selama pandemi di Indonesia,” kata Wiku.

Lebih lanjut, jika dilihat dari provinsi yang mengalami kenaikan kematian mingguan per 25 Juli lalu, sebanyak 5 dari 10 provinsi berasal dari luar Jawa Bali. Meskipun Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DKI masih menjadi penyumbang tertinggi kenaikan kematian, Satgas meminta agar daerah mewaspadai kenaikan kasus di Kalimantan Timur, Riau, Sulawesi Selatan, Kalimantan Tengah, dan Sumatera Selatan.

Baca Juga

Angka kematian harian Covid-19 selalu di atas 1.000 orang dalam 10 hari terakhir. Dari grafik kematian harian yang dirilis Satgas Penanganan Covid-19, terlihat bahwa tren lonjakan kematian secara signifikan mulai terjadi sejak pertengahan Juni 2021, sampai hari ini. Padahal pada April 2021, angka kematian sempat beberapa kali tercatat di bawah 100 orang per hari.

Wiku pun meminta agar lonjakan kasus kematian ini menjadi alarm bagi pemerintah daerahnya. Sebab, sebagian besar kabupaten kota di provinsi tersebut tidak menjalankan PPKM level 4.

Untuk menekan angka kematian Covid-19, Pemprov DKI Jakarta saat ini meminta warganya yang tengah menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumahnya pindah ke fasilitas isolasi yang disediakan oleh Pemprov. Khususnya, bagi masyarakat yang rumah atau tempat isomannya tidak memungkinkan untuk menunjang dilakukan isoman.

"Tentu kami mendorong agar mereka kalau mau lebih aman pindah ke fasilitas yang disediakan Pemprov DKI Jakarta," kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria di Balai Kota Jakarta, Rabu (29/7) malam.

Pemprov DKI telah menyediakan 184 lokasi isolasi di seluruh wilayah Provinsi DKI Jakarta dengan kapasitas untuk 26.134 orang. "Ini masih banyak yang belum terisi, masyarakat masih banyak yang menggunakan rumah masing-masing untuk tempat isolasi," kata dia.

 



Praktik isoman menjadi sorotan hangat setelah sebelumnya kanal laporan warga LaporCovid-19 melaporkan sebanyak 1.214 warga yang terpapar Covid-19 di Jakarta meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri di rumah. Jumlah itu berdasarkan data yang dihimpun koalisi warga LaporCovid-19 hingga 22 Juli 2021.

Data Analyst Lapor Covid-19 Said Fariz Hibban menyebutkan, DKI Jakarta menjadi provinsi yang warganya paling banyak dilaporkan meninggal dunia di luar rumah sakit atau fasilitas kesehatan. "Yang sudah di atas 1.000 itu lagi-lagi di DKI Jakarta, lima kota sudah di atas 1.000," kata Said dalam konferensi pers.

Selain data yang dihimpun sendiri, LaporCovid-19 juga mengaku telah mendapat data resmi dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta terkait jumlah pasien Covid-19 yang meninggal saat menjalani isolasi mandiri. Berdasarkan data dari Dinkes DKI, ada 1.161 orang meninggal dunia di luar rumah sakit atau fasilitas kesehatan.

Untuk mencegah kasus kematian pada pasien isoman di Jawa Barat (Jabar), menurut Gubernur Jabar Ridwan Kamil, Pemprov Jabar memberikan obat gratis dan menyebarkan 2 ribuan tabung oksigen.

"Ada 42 ribu pertanyaan dari warga yang isoman," kata Emil, sapaan Ridwan, Kamis (29/7).

Khusus untuk oksigen, kata dia, truk isotank untuk mengangkut truk cair semuanya sebanyak delapan unit sudah ada di Jabar. Namun, pihaknya mendapati hasil kajian kemarin provinsi lain kesulitan.

"Karena oksigennya ada di berbagai tempat tapi jaraknya jauh dan kesulitan (angkut/akomodasi), Alhamdulillah Jabar bisa berkat kerja keras tim Posko oksigen mendapatkan pinjaman delapan truk skala besar yang tiap hari seperti galon isi ulang bolak balik mengisi oksigen dari sumber-sumbernya seperti dari Krakatau Steel, Pupuk Pusri sampai ke Sumatera Selatan," paparnya.

Oksigen juga, kata dia, sudah datang oksigen konsentrator dari pusat sebanyak 100. Jadi, oksigen konsentrator itu adalah teknologi baru bisa mengambil oksigen langsung dari udara luar atau ruangan.

"Jadi tidak usah berbentuk cair, cair digaskan lagi ini bisa langsung. Tapi ini untuk pasien ringan sedang," katanya.

Emil mengatakan, jumlah pasien isoman diperkirakan sekitar 80 ribu orang. Angka tersebut diperoleh dari jumlah semua pasien 129 ribu dikurangi sekitar 20 ribuan pasien yang dirawat di rumah sakit dan 20 ribuan pasien di ruang isolasi mandiri yang ada di desa dan terpusat.

"Untuk kesembuhan pasien yang isoman jumlahnya masif tapi belum tentu terlaporkan kota/kabupaten," katanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA