Saturday, 5 Rabiul Awwal 1444 / 01 October 2022

Wiku: Jumlah Kematian pada Juli Tertinggi Selama Pandemi

Kamis 29 Jul 2021 18:11 WIB

Rep: Dessy Suciati Saputri / Red: Bayu Hermawan

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito

Foto: BNPB
Satgas mencatat hingga 28 Juli total ada sebanyak 30.168 kasus kematian akibat Covid.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mencatat jumlah kematian yang terjadi pada Juli ini merupakan yang tertinggi selama pandemi di Indonesia. Juru Bicara Pemerintah Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, hingga kemarin terdapat total 30.168 kematian pada bulan ini.

Angka ini sangat tinggi mengingat pada sebelumnya kasus kematian tertinggi yang tercatat pada Juni lalu sebesar 7.913 kasus. "Jumlah kematian di Juli ini menjadi bulan dengan jumlah kematian yang paling banyak selama pandemi di Indonesia," kata Wiku saat konferensi pers, Kamis (29/7).

Baca Juga

Lebih lanjut, jika dilihat dari provinsi yang mengalami kenaikan kematian mingguan per 25 Juli lalu, sebanyak 5 dari 10 provinsi berasal dari luar Jawa Bali. Meskipun Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DKI masih menjadi penyumbang tertinggi kenaikan kematian, namun Satgas meminta agar daerah mewaspadai kenaikan kasus di Kalimantan Timur, Riau, Sulawesi Selatan, Kalimantan Tengah, dan Sumatera Selatan.

Wiku pun meminta agar lonjakan kasus kematian ini menjadi alarm bagi pemerintah daerahnya. Sebab, sebagian besar kabupaten kota di provinsi tersebut tidak menjalankan PPKM level 4. Untuk menekan penambahan kasus kematian ini, ia mengatakan pemerintah telah meningkatkan kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan.

Yakni dengan menambah tempat isolasi terpusat dan rumah sakit lapangan hingga total 868 tempat tidur di Banten, 17.594 tempat tidur di DKI Jakarta, 4.310 tempat tidur di Jawa Barat, 6.089 tempat tidur di Jawa Tengah, 2.031 tempat tidur di DI Yogyakarta, 7.339 tempat tidur di Jawa Timur, dan 1.001 tempat tidur di Bali. Selain itu, pemerintah juga memberikan bantuan ke rumah sakit berupa tenda serbaguna, toilet portable, fold bed, dan selimut.

"Penambahan pasokan oksigen berupa lebih dari 1.000 ton oksigen dari hibah dalam dan luar negeri, pengelolaan truk armada untuk menyalurkan oksigen, dan penyaluran 3.825 oksigen konsentrator," ujar Wiku.

Pemerintah juga meningkatkan suplai obat-obatan di rumah sakit dan memberikan paket gratis obat untuk masyarakat yang sedang melakukan isolasi mandiri. Untuk membantu penanganan pasien di rumah sakit, pemerintah berencana menambah tenaga kesehatan dari perawat yang belum mengambil uji kompetensi dan dokter yang telah selesai internship.

Kendati demikian, lonjakan kasus kematian yang masih terus terjadi ini harus dievaluasi. Wiku pun meminta pemerintah daerah agar selalu memantau rumah sakit di wilayahnya serta memastikan ketersediaan obat-obatan, oksigen, dan tenaga kesehatan yang bertugas.

Sedangkan bagi masyarakat yang mengalami gejala sedang, berat, atau berusia di atas 45 tahun, atau memiliki komorbid, atau tidak memiliki tempat yang memadai untuk melakukan isolasi mandiri, diminta agar melakukan isolasi di tempat isolasi terpusat yang telah disediakan oleh pemerintah setempat.

"Perawatan tempat isolasi terpusat diawasi langsung oleh tenaga kesehatan dan dipantau baik tanda vital, gejala, pola makan, dan obat-obatannya sehingga jika terjadi perburukan bisa langsung ditangani," kata Wiku.

 

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA