Monday, 7 Rabiul Awwal 1444 / 03 October 2022

Epidemiolog Minta Isolasi Daerah dengan Kasus Covid Parah

Ahad 13 Jun 2021 19:17 WIB

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Ratna Puspita

Suasana Rumah Sakit Lapangan (Rumkitlap) TNI AD di Benteng Vastenburg, Solo, Jawa Tengah, sebagai fasilitas isolasi pasien COVID-19 dari Kudus.

Suasana Rumah Sakit Lapangan (Rumkitlap) TNI AD di Benteng Vastenburg, Solo, Jawa Tengah, sebagai fasilitas isolasi pasien COVID-19 dari Kudus.

Foto: ANTARA/Mohammad Ayudha
Isolasi, yakni menutup pintu masuk ke daerah-daerah dengan kasus tinggi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah diminta lebih tegas dalam menangani pandemi Covid-19, khususnya dalam pengendalian di daerah dengan lonjakan kasus tinggi. Ahli epidemiolog FKM Universitas Indonesia Pandu Riono meminta pemerintah segera mengisolasi wilayah-wilayah yang disinyalir terdapat penularan Covid-19 parah. 

Ibarat kebakaran, ujar Pandu, daerah seperti Kudus, Bangkalan, Bandung, dan wilayah lain yang terdapat penularan parah sudah terlanjur terbakar hebat. Menurutnya, tugas pemerintah adalah mencegah api merembet cepat ke daerah lain. 

Baca Juga

Meski langkah pemerintah terbilang terlambat, imbuhnya, mencegah infeksi meluas tetap harus dilakukan. "Masih banyak rumah-rumah lain yang belum kebakar. Mencegah perluasan kebakaran. Pertama pada wilayah-wilayah yang beban kasus tinggi, kayak Kudus, Madura, langsung isolasi. Langsung isolasi seminggu. Bukan karantina, isolasi saja," kata Pandu kepada Republika, Ahad (13/6). 

Isolasi yang dimaksud Pandu adalah menutup pintu masuk ke daerah-daerah dengan kasus tinggi. Sehingga, tidak ada mobilitas warga yang keluar atau masuk dan berisiko membawa virus mutan Covid-19. Daerah yang jadi sasaran isolasi, ujarnya, adalah daerah dengan tingkat keterisian rumah sakit 50 persen ke atas.

"Kalau virus mutannya keluar dari wilayah yang di situ makin banyak, ya luber lah ke seluruh Jawa Tengah, Jawa Timur. Makin sulit terkendali. Mumpung masih di satu wilayah, kerjakan di situ. Testing, lacak, isolasi, vaksinasi di situ selama seminggu kerja keras," kata Pandu. 

Pandu menyesali kebijakan pemerintah yang terkesan tidak memahami konsep penanganan pandemi. Misalnya, ujarnya, warga Kudus yang terkonfirmasi positif Covid-19 justru dirawat di fasilitas isolasi di Solo atau Semarang. 

"Yang sakit malah dikirim ke luar, dirawat di Solo di Semarang. Ya sudah virusnya ke mana-mana. Mereka ini nggak paham apa yang perlu dilakukan bahwa kita harus meng-containment, kita kurung supaya ngga lari keluar dari wilayah tertentu," kata Pandu. 

Pandu menyadari bahwa pemerintah selalu mempertimbangkan aspek ekonomi. Namun, untuk saat ini lebih penting menyetop penularan agar pandemi terselesaikan secara tuntas secepat-cepatnya.

Semakin cepat pandemi rampung, ujarnya, maka semakin cepat pula ekonomi bisa kembali dipulihkan. "Semakin cepat beres semakin bisa dibereskan ekonominya. Bukan berarti ekonomi ngga dibereskan lho ya, tapi ditunda dulu supaya nanti, supaya jangan digerogoti lagi," kata Pandu. 

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA