Saturday, 3 Syawwal 1442 / 15 May 2021

Saturday, 3 Syawwal 1442 / 15 May 2021

Tokoh Taliban: Kita Menang, Amerika Telah Kalah

Kamis 15 Apr 2021 09:41 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Teguh Firmansyah

Dalam foto 12 September 2020 ini, delegasi Taliban datang untuk menghadiri sesi pembukaan pembicaraan damai antara Pemerintah Afghanistan dan Taliban di Doha, Qatar. Pada 31 Januari 2021, Rasul Talib, anggota tim negosiasi perdamaian Pemerintah Afghanistan memperingatkan Taliban bahwa jika mereka tidak segera melanjutkan pembicaraan damai di Qatar, pemerintah dapat memanggil kembali tim tersebut sebelum kesepakatan tercapai. Talib mengatakan dalam konferensi pers bahwa tim sedang menunggu kembalinya kepemimpinan Taliban ke Doha, Qatar, tempat putaran kedua pembicaraan damai dimulai bulan ini, tetapi hanya mengalami sedikit kemajuan.

Dalam foto 12 September 2020 ini, delegasi Taliban datang untuk menghadiri sesi pembukaan pembicaraan damai antara Pemerintah Afghanistan dan Taliban di Doha, Qatar. Pada 31 Januari 2021, Rasul Talib, anggota tim negosiasi perdamaian Pemerintah Afghanistan memperingatkan Taliban bahwa jika mereka tidak segera melanjutkan pembicaraan damai di Qatar, pemerintah dapat memanggil kembali tim tersebut sebelum kesepakatan tercapai. Talib mengatakan dalam konferensi pers bahwa tim sedang menunggu kembalinya kepemimpinan Taliban ke Doha, Qatar, tempat putaran kedua pembicaraan damai dimulai bulan ini, tetapi hanya mengalami sedikit kemajuan.

Foto: AP/Hussein Sayed
AS akan menarik pasukannya di Afghanistan mulai 1 Mei.

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL -- Taliban mengaku berhasil mengepung pemerintahan Afghanistan dukungan Barat melalui desa-desa kecil di kota besar. Cara ini membuat milisi merasa telah menang dari gempuran pasukan pemerintah dan asing, seperti Amerika Serikat (AS).

"Pasukan pemerintah ada di sana dekat pasar utama, tetapi mereka tidak dapat meninggalkan pangkalan mereka. Wilayah ini milik para mujahidin," kata komandan militer distrik Balkh, Baryalai.

Seperti dikutip dari BBC, kondisi tersebut menjadi gambaran serupa di sebagian besar Afghanistan. Pemerintah mengawasi kota kecil dan kota-kota besar, tetapi Taliban mengepung dengan kehadiran di sebagian besar pedesaan.

Nilai-nilai ultrakonservatif Taliban tidak terlalu berbenturan dengan nilai-nilai di daerah pedesaan. Namun, banyak di kota-kota khawatir kelompok itu ingin menghidupkan kembali cara pemahaman keagamaan yang meremehkan kebebasan.

Taliban tidak melihat diri mereka sebagai kelompok pemberontak, tetapi sebagai pemerintah yang sedang menunggu. Mereka menyebut diri mereka sebagai "Imarah Islam Afghanistan". Nama yang mereka gunakan ketika berkuasa dari tahun 1996 hingga digulingkan setelah serangan 9/11.

Sekarang Taliban memiliki struktur bayangan yang canggih, dengan pejabat yang bertugas mengawasi layanan sehari-hari di wilayah yang dikendalikan.

Baca juga : Respons Umar Bin Khattab Saat Rasulullah Talak Hafshah

"Taliban sebelumnya dan Taliban sekarang adalah sama. Jadi, membandingkan waktu itu dan sekarang tidak ada yang berubah. Namun, tentu saja ada pergantian personel. Beberapa orang lebih keras dan beberapa lebih tenang. Itu normal," kata wali kota bayangan Taliban di Dstrik Balkh, Haji Hekmat.

Para milisi menegaskan otoritas mereka di pedesaan dengan melalui pos pemeriksaan sporadis di sepanjang jalan utama. Taliban pun percaya kemenangan adalah milik mereka. "Kita telah memenangkan perang dan Amerika telah kalah," ujar Haji Hekmat.

Tapi, selama setahun terakhir, terlihat kontradiksi dalam pelawan Taliban. Mereka menghentikan serangan terhadap pasukan internasional setelah penandatanganan perjanjian dengan AS, tetapi terus berperang dengan Pemerintah Afghanistan.

Haji Hekmat menegaskan tidak ada kontradiksi. "Kami menginginkan pemerintahan Islam yang diatur oleh syariah. Kami akan melanjutkan jihad kami sampai mereka menerima tuntutan kami," ujarnya.

Seperti diketahui, pemerintahan AS di bawah Joe Biden akan memulai menarik sisa pasukan AS di Afghanistan pada 1 Mei. Paling lambat pasukan sudah keluar pada 11 September 2021.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA