Thursday, 7 Zulqaidah 1442 / 17 June 2021

Thursday, 7 Zulqaidah 1442 / 17 June 2021

AS Minta China Tutup Permanen Pasar Satwa Liar

Kamis 23 Apr 2020 13:21 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Seorang pekerja mengenakan pakaian Hazmat  di pasar basah china yang ditutup di Wuhan, Provinsi Hubei, China, Kamis (23/1).

Seorang pekerja mengenakan pakaian Hazmat di pasar basah china yang ditutup di Wuhan, Provinsi Hubei, China, Kamis (23/1).

Foto: STR/Reuters
AS terus meningkatkan tekanan kepada China terkait virus corona

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Pemerintah Amerika Serikat (AS) telah meminta China menutup secara permanen pasar basah satwa liarnya. Hal itu mengingat hubungan antara pasar jenis tersebut dengan penyakit zoonosis. 

"Mengingat hubungan yang kuat antara satwa liar ilegal yang dijual di pasar basah dan penyakit zoonosis, AS telah meminta Republik Rakyat Cina untuk secara permanen menutup pasar basah satwa liar serta semua pasar yang menjual satwa liar ilegal," kata Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dalam sebuah pernyataan pada Rabu (22/4). 

Baca Juga

Dalam beberapa hari terakhir, AS terus meningkatkan tekanan kepada China. Washington telah menyerukan penyelidikan internasional untuk mengungkap asal-usul virus korona baru SARS-Cov-2 penyebab Covid-19. 

AS menilai China belum sepenuhnya terbuka dalam memberikan informasi terkait hal tersebut. Pompeo bahkan menduga bahwa virus berasal dari sebuah laboratorium di Wuhan. 

Pemerintah China telah membantah anggapan tersebut. Direktur Wuhan Institute of Virology (WIV) Yuan Zhiming turut menyangkal tudingan bahwa SARS-Cov-2 berasal dari laboratoriumnya. Menurutnya tak ada bukti yang mendukung hal tersebut. 

Yuan menyebut WIV dikelola dengan baik seperti laboratorium di Eropa dan AS. “Saya pikir itu bisa dimengerti bagi orang-orang membuat hubungan itu. Tapi adalah langkah jahat sengaja menyesatkan orang-orang untuk berpikir bahwa virus itu lolos dari laboratorium (kami di Wuhan),” kata dia saat diwawancara stasiun televisi yang dikelola Pemerintah China, CGTN pada 18 April lalu. 

Menurut Yuan, pihak-pihak yang menuding bahwa SARS-Cov-2 berasal dari WIV tak memiliki bukti untuk mendukung argumentasinya. “Mereka mendasarkannya sepenuhnya pada spekulasi mereka sendiri,” ujarnya. 

Dia mengaku telah mengelola biosafety laboratorium dan proyek penelitian ilmiah selama bertahun-tahun. “Saya tahu itu tidak mungkin (virus berasal dari laboratorium). Tapi saya juga yakin bahwa selama pandemi berlanjut, spekulasi dan ketidakharmonisan seperti ini tidak akan pudar,” kata Yuan.

Terlepas dari argumentasi antara AS dan China, Pandemi Covid-19 awalnya diyakini bermula dari sebuah pasar basah di Wuhan. Awal April lalu, Acting Executive Secretary of the United Nations Convention on Biological Diversity Elizabeth Maruma Mrema mengatakan negara-negara mencegah pandemi di masa depan dengan melarang “pasar basah” yang menjual hewan hidup dan mati untuk dikonsumsi manusia. 

"Tapi kita juga harus ingat bahwa Anda memiliki komunitas, terutama dari daerah pedesaan berpenghasilan rendah, khususnya di Afrika, yang bergantung pada hewan liar untuk mempertahankan mata pencaharian jutaan orang,” kata Mrema saat diwawancara the Guardian. 

Dengan demikian, pelarangan pasar hewan liar dapat membuka kemungkinan perdagangan satwa secara ilegal. Beberapa spesies telah berada di ambang kepunahan akibat praktik tersebut. 

Sekretaris Jenderal China Biodeversity Conservation and Green Development Foundation Jinfeng Zhou meminta otoritas berwenang China membuat larangan pasar satwa liar permanen. Jika tidak dilakukan, wabah seperti Covid-19 berpotensi muncul kembali.

“Saya setuju bahwa harus ada larangan global terhadap pasar basah, yang akan banyak membantu konservasi satwa liar dan melindungi diri kita dari kontak yang salah dengan satwa liar. Lebih dari 70 persen penyakit manusia berasal dari satwa liar dan banyak spesies terancam punah dengan memakannya,” kata Jienfeng. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA