Tuesday, 12 Zulqaidah 1442 / 22 June 2021

Tuesday, 12 Zulqaidah 1442 / 22 June 2021

PBB: Pandemi Corona Bisa Jadi Alasan Negara Berbuat Represif

Kamis 23 Apr 2020 13:17 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Sekjen PBB Antonio Guterres

Sekjen PBB Antonio Guterres

Foto: AP Photo/Mary Altaffer
Pandemi virus corona berisiko menjadi krisis hak asasi manusia (HAM).

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan, pandemi Covid-19 bisa menjadi alasan negara bertindak atau mengambil langkah-langkah represif. Menurut dia, pandemi Covid-19 berisiko menjadi krisis hak asasi manusia (HAM).

"Terhadap latar belakang meningkatnya etno-nasionalisme, populisme, otoritarianisme, dan penolakan terhadap HAM di beberapa negara, krisis dapat memberikan dalih untuk mengambil langkah-langkah represif untuk tujuan yang tidak terkait dengan pandemi," kata Guterres pada Kamis (23/4).

Baca Juga

Dia tidak memberikan contoh spesifik dari tindakan tersebut. "Kami melihat efek yang tidak proporsional pada komunitas tertentu, munculnya pidato kebencian, penargetan kelompok rentan, dan risiko tanggapan keamanan tangan-berat merusak respons kesehatan," ucapnya.

Guterres, mengutip laporan PBB, mengatakan, pengungsi dan migran adalah kelompok yang sangat rentan. Saat ini lebih dari 131 negara telah menutup perbatasan mereka. Hanya sekitar 30 negara memberi pengecualian bagi pencari suaka.

Menurut Guterres, HAM harus memandu respons serta pemulihan krisis kesehatan, sosial, dan ekonomi yang mencengkeram dunia. Dia menekankan bahwa virus tidak membeda-bedakan, tetapi dampaknya tetap.

Dia meminta pemerintah transparan, responsif, dan akuntabel dalam mengambil tindakan. Guterres menekankan bahwa ruang sipil dan kebebasan pers adalah "kritis". "Respons terbaik adalah respons yang proporsional terhadap ancaman langsung sambil melindungi HAM dan supremasi hukum," ujarnya.

Guterres berharap semua negara dapat menerapkan hal tersebut. "Dalam semua hal yang kita lakukan, jangan pernah lupa; ancamannya adalah virus, bukan manusia," katanya. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA