Kamis 23 Apr 2020 13:08 WIB

Sentra Mijen Demak Panen Bawang Merah

Kondisi stok bawang merah aman hingga pra maupun pascalebaran

Sentra Mijen Demak panen bawang merah di tengah pandemi Covid-19.
Foto: Kementan
Sentra Mijen Demak panen bawang merah di tengah pandemi Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, DEMAK -- Dikenal sebagai salah satu kabupaten pemasok bawang merah utama di Indonesia, Kabupaten Demak siap memasok bawang merah menjelang lebaran. Para petani di daerah tersebut bahkan tetap antusias bekerja di lahan meski dibayang-bayangi pandemi Covid-19.

Pantauan langsung Tim Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian di sentra Mijen Demak memperlihatkan kesiapan petani daerah tersebut mendukung pasokan bawang merah nasional. Hal tersebut seperti diungkapkan Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Prihasto Setyanto.

Baca Juga

Anton sapaannya memaparkan, kondisi stok bawang merah aman hingga pra maupun pascalebaran. Terlebih sentra bawang seperti Demak sudah siap panen raya.

“Kami sangat optimistis pasokan bawang merah aman, bahkan sampai pascalebaran nanti,” ujar Anton saat memimpin langsung tim monitoring ketersediaan bawang merah dalam rangka kewaspadaan ketahanan pangan nasional selama pandemi Covid-19 di Desa Pasir, Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak (23/4).

Apa yang disampaikan Anton merujuk hasil pantauannya di lapangan langsung. Bersama tim Ditjen Hortikultura Kementan, dia turun langsung ke sentra-sentra bawang merah.

“Kami saksikan sendiri, di satu desa ini saja tidak kurang dari 700 hektare lahan bawang merah terhampar. Umurnya bervariasi antara 20 hari hingga siap panen. Setiap hari di Desa Pasir selalu ada panen bawang merah. Ini mengindikasikan pasokan bawang merah tetap aman terkendali,” imbuhnya.

Senada, Plt. Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Sukarman meyakini bahwa pasokan bawang merah berdasarkan pantauannya aman hingga pascalebaran.

"Kami sudah pantau langsung juga di Brebes, hamparannya luas sekali. Sekarang melihat hamparan di Demak seperti ini, tentunya kami semakin yakin pasokan aman. Kami saksikan aktifitas warga di hampir semua rumah sedang memipil dan mengeringkan bawang merah, siap memasok berbagai daerah," ujarnya.

Panen Tiga Kali Setahun

Kepala Desa Pasir, Karyono saat ditemui di lokasi mengatakan, bercocok tanam bawang merah sudah menjadi mata pencaharian utama warga desanya sejak dulu. “Hebatnya petani di desa kami, tanam bawang merah bisa tiga kali setahun. Musim tanam I bulan Oktober-Desember, musim tanam II bulan Februari-Maret dan musim tanam III bulan Juni-Juli diselingi tanam padi, cabai dan tomat,” ungkap Karyono lugas.

Pihaknya juga menggambarkan banyaknya jumlah penduduk yang terlibat dalam usaha bawang merah ini sebanding dengan luasan lahan yang tersedia. “Bayangkan saja 700 hektare sepanjang tahun itu bisa menyerap tenaga kerja ribuan orang dari tujuh desa sekitar. Bahkan untuk musim ini juga banyak petani bawang merah dari Brebes yang ikut juga bekerja di sini,” katanya. Menurutnya, upah buruh petani di Demak saat ini rata-rata Rp 60 ribu per setengah hari untuk pekerja pria dan Rp 50 ribu untuk pekerja wanita.

Di tempat sama, Ketua kelompok Tani Maju Jaya, Abdul Rosyid mengaku senang dengan kondisi pertanaman bawang merah di Kabupaten Demak saat ini. “Bayangkan saja untuk satu bahu (setara 7.000 m2) saja kalau pas panen bisa dihargai Rp 150 juta rupiah. Itu kita nggak ngeluarkan tenaga, mereka (pedagang) yang tebas sendiri dilahan,” ungkap Rosyid bahagia.

"Sekali sekali kami bisa menikmati panen dengan harga bagus pak Dirjen, kasihan petani kalau harga jatuh terus, musim tanam pertama kemarin harga jatuh Rp 3000 sampai Rp 5000, saat ini harga bagus, petani senang sebagai kompensasi kerugian kemarin," lanjut dia.

Rosyid memaparkan menjelang panen raya harga cenderung turun karena pasokan bawang merah meningkat. Kalau biasanya per hari kami kirim 10 truk kapasitas 7 ton per truk, saat panen raya bisa sampai 15 truk tapi harganya kurang bagus,” lanjut Rosyid. “Kami minta tolong solusi dari pemerintah saat panen raya nanti,” imbuhnya.

Menanggapi permintaan petani, Dirjen Hortikultura menegaskan pihaknya terus berupaya menjaga kestabilan pasokan dan harga bawang merah maupun komoditas strategis lainnya.

Saat harga melambung tinggi apalagi menyentuh harga yang tidak wajar, lanjut Anton, pihaknya melakukan operasi pasar bekerjasama dengan Badan Ketahanan Pangan.

“Ongkos pengiriman dari petani kami tanggung. Nah, kebalikannya kalau harga jatuh kami tawarkan tunda jual sampai harga membaik. Caranya dengan menyimpan hasil panen petani di gudang yang dikelola oleh petani itu sendiri, kami yang biayai sewa gudangnya,” tukasnya.

Berdasarkan pantauan Ditjen Hortikultura, harga bawang merah di tingkat petani saat ini rata-rata masih di angka Rp 30 ribu per kilogram (kg). Harga di tingkat Pasar Induk Jakarta Rp 35ribu per kg dan di pasar retail bisa mencapai lebih dari Rp 51 ribu per kg. Seiring dengan mulai banyaknya panen, harga bawang merah diperkirakan berangsur normal.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement