Saturday, 11 Safar 1443 / 18 September 2021

Saturday, 11 Safar 1443 / 18 September 2021

Masjid Raya Lima Kaum, Saksi Bisu Dakwah Awal di Minangkabau

Sabtu 18 Apr 2020 18:03 WIB

Red: Hasanul Rizqa

Masjid Raya Lima Kaum

Masjid Raya Lima Kaum

Foto: Kemendikbud
Masjid Raya Lima Kaum dibangun jauh sebelum kolonialisme Belanda datang

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masjid Raya Lima Kaum merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia. Masjid yang juga bangunan cagar budaya nasional itu terletak di Nagari Lima Kaum, Kecamatan Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat.

Masyarakat setempat mempercayai, cikal-bakal kompleks peribadahan ini sudah ada sejak pertengahan abad ke-17. Hal itu seiring dengan masuknya dakwah Islam ke Negeri Minangkabau.

Baca Juga

Mulanya adalah suatu surau kecil yang terletak di Jorong Balai Batu. Bangunan itu masih amat sederhana. Lantainya hanya beralaskan batu. Bahkan, belum ada atap yang cukup untuk menaungi. Masyarakat waktu itu mengistilahkannya baaleh batu, badindiang angin, baatok langik. Artinya, ‘hanya berlantai batu, berdinding angin, dan beratapkan langit.'

photo
Masjid Raya Lima Kaum - (Kemendikbud)
Berpuluh tahun kemudian, kaum Muslimin setempat membangun surau pengganti. Di atas lahan itu, ada bekas situs pagoda tempat kuil warisan generasi terdahulu. Namun, kini masyarakat setempat seluruhnya memeluk Islam. Maka, situs itu pun diubah.

Sebuah masjid yang lebih besar dibangun di atas bekas kompleks pagoda tersebut. Inilah yang mengawali pembangunan Masjid Raya Lima Kaum pada 1710. Warga setempat bergotong-royong membangun tempat ibadah itu.

Atap berjenjang

Corak arsitektur Masjid Raya Lima Kaum mencerminkan kekhasan budaya lokal. Tak tampak unsur-unsur budaya Barat atau modern di sana. Hal ini wajar karena memang pembangunan masjid ini terjadi jauh sebelum kolonialisme Belanda masuk ke Sumatra.

Penampilan atap masjid tersebut menyerupai pagoda. Bertumpuk-tumpuk: mulai dari atap terbawah hingga yang paling kecil di atasnya. Atap Masjid Raya Lima Kaum dibuat berundak-undak sebanyak lima tingkat dengan permukaan atap yang cekung. Bentuk itu melambangkan perpaduan antara kebudayaan Hindu-Buddha dan peradaban Islam.

Bagian interior menampilkan sisi antik dari Masjid Raya Lima Kaum. Di ruangan utama tempat jamaah melaksanakan shalat, ada sejumlah tiang yang terbuat dari kayu. Adapun tiang paling besar terletak di tengah-tengah. Tiang berdiameter 75 cm itu memiliki tinggi 55 meter. Kayu-kayu yang menjadi bahan pembuatan tiang-tiang ini mulanya ditebang oleh warga sekitar dari hutan-hutan terdekat. Mereka lantas bahu-membahu untuk menggotong seluruh batang pohon ke lokasi pembangunan masjid. Bahkan, perlu waktu satu tahun lamanya untuk memindahkan semua batang kayu dari Bukit Sangkiang hingga Bukit Dadieh Talago Gunuang.

photo
Masjid Raya Lima Kaum - (Kemendikbud)
Sejak 2010, Masjid Raya Lima Kaum ditetapkan sebagai cagar budaya nasional. Di seluruh Provinsi Sumatra Barat, tidak hanya kompleks peribadahan itu saja yang menyandang gelar demikian. Ada pula masjid-masjid lain, seperti Masjid Bingkudu di Nagari Canduang Koto Laweh, Masjid Rao Rao di Nagari Rao Rao, dan Masjid Raya Ganting di Kota Padang.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA