Jumat , 25 Sep 2015, 14:20 WIB

Swasembada Kedelai, Bisakah Diwujudkan 2017?

Rep: sonia fitri/ Red: Taufik Rachman
Antara/Asep Fathulrahman
Petani kedelai tengah memanen hasil tanamannya.
Petani kedelai tengah memanen hasil tanamannya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Kementerian Pertanian (Kementan) mengakui sulitnya mencapai target swasembada kedelai di 2017. Hal tersebut setelah memperhatikan berbagai aspek seperti kondisi lahan, harga kedelai dan kesiapan petani menanam.

Seperti diketahui, Kementan menetapkan program swasembada pangan tiga komoditas utama yakni padi, jagung dan kedelai. Upaya khusus (upsus) dan refocusing anggaran pun dilakukan untuk mencapainya.

Direktur Jenderal (Dirjen) Tanaman Pangan Kementan Hasil Sembiring menguraikan, salah satu alasan beratnya mencapai swasembada kedelai yakni terus menurunnya kemauan petani menanam. "Mereka selalu rugi dengan harga jual," katanya pada Jumat (25/9).

Dari hasil kunjungannya ke Aceh, ia mendapati harga kedelai hanya Rp 4.500-5 ribu per kilogram. Padahal, biaya produksi kedelai di kawasan setempat mencapai Rp 7.500-7.800 per kilogram. Rendahnya harga jual membuat petani terus merugi dan meninggalkan kegiatan penanaman. Dampaknya, dalam kurun waktu 23 tahun areal tanam kedelai susut hingga 60 persen dari 1,8 juta hektar jadi 700 ribu hektare.

Agar harga kedelai lokal tak terlalu kalah saing dengan yang impor, pemerintah sebenarnya memiliki instrumen harga pembelian pemerintah (HPP) kedelai untuk menjaga harga di petani. "?Kami usulkan kedelai itu harganya Rp 8.100 per kilogram, namun pemberlakuannya masih berproses," katanya.

Terhitung 1 Januari 2014 hingga Maret 2015, HPP kedelai sebenarnya sudah dipatok sebesar Rp 7.700 per kilogram. Namun dalam pelaksanaannya di lapangan masih banyak yang membeli di bawah harga tersebut. Usulan kenaikan HPP kedelai akan dikoordinasikan dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag).

Angka Ramalan (Aram) I Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut, produksi kedelai diperkirakan 998 ribu ton atau naik 5 persen dibanding tahun lalu. Kenaikan tersebut tak sebanding dengan kebutuhan kedelai nasional yang mencapai 2,3 juta ton. Indonesia pun masih harus mengimpor 1,4 juta ton kedelai.

Menilik ke belakang, Indonesia pernah mencapai swasembada kedelai pada 1992. Di mana ketika itu luas panen kedelai di seluruh Indonesia mencapai 1,889 juta hektare. Produksi melimpah dan tidak ada impor.


Video

DPR Sahkan RUU Perlindungan Data Pribadi Jadi Undang-Undang