Monday, 8 Rajab 1444 / 30 January 2023

Masyarakart Diimbau Lebih Peduli Terhadap Kualitas Udara

Kamis 08 Dec 2022 22:58 WIB

Red: Nora Azizah

Lembaga data kualitas udara IQ Air pada Juli 2022 menempatkan Jakarta sebagai peringkat pertama dari sepuluh besar kota  paling berpolusi di Indonesia dengan indeks kualitas udara di angka 180 karena konsentrasi Particulate Matter (PM) 2.5 Jakarta berada pada angka 111.5 mikrogram per meter kubik atau 22,3 kali di atas nilai pedoman kualitas udara tahunan Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Lembaga data kualitas udara IQ Air pada Juli 2022 menempatkan Jakarta sebagai peringkat pertama dari sepuluh besar kota paling berpolusi di Indonesia dengan indeks kualitas udara di angka 180 karena konsentrasi Particulate Matter (PM) 2.5 Jakarta berada pada angka 111.5 mikrogram per meter kubik atau 22,3 kali di atas nilai pedoman kualitas udara tahunan Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Foto: ANTARA/Aditya Pradana Putra
Kualitas udara buruk sangat berpengaruh terhadap risiko terkena penyakit pernapasan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan bahwa isu polusi udara merupakan permasalahan seluruh masyarakat karena dapat berpengaruh terhadap penyakit pernapasan. Hal ini disampaikan Budi usai menghadiri peluncuran film dokumenter mengenai polusi udara berjudul 'SENGAL', di Jakarta, Kamis (8/12/2022).

Menurut Budi, salah satu penyebab penyakit yang bebannya paling tinggi di Indonesia adalah penyakit respiratorik atau penyakit gangguan pernapasan. "Oleh karena itu pendidikan agar masyarakat Indonesia tetap sehat terutama bebas dari gangguan penyakit pernapasan itu sangat baik, karena buat kami lebih baik mencegah daripada mengobati," ujarnya.

Baca Juga

Permasalahan polusi udara, lanjut Budi, tidak akan selesai kalau hanya dilakukan oleh pemerintah, sehingga perlu kerja sama dan kontribusi dari seluruh pihak mulai dari stakeholder pemerintahan sampai masyarakat luas.

"Ini nggak bisa dilakukan sendiri, harus bersama-sama. Nggak bisa dilakukan secara eksklusif, harus inklusif. Nggak bisa dilakukan dalam bentuk program pemerintah tapi harus dalam bentuk gerakan masyarakat," katanya.

Karenanya, Budi mengapresiasi organisasi Bicara Udara yang terus berupaya menggencarkan pembahasan terkait isu polusi udara, salah satunya melalui film dokumenter berjudul 'SENGAL'. Menurutnya, masyarakat perlu diedukasi bahwa polusi udara bisa menyebabkan penyakit pernapasan karena sudah banyak sekali masyarakat yang masuk rumah sakit dan mendatangi dokter karena penyakit pernapasan yang termasuk lima besar penyakit yang bebannya paling tinggi di Indonesia, selain jantung, stroke dan kanker.

"Saya merasa seharusnya lebih banyak lagi film-film seperti ini, edukasi-edukasi seperti ini, yang bisa menyadarkan masyarakat bahwa polusi udara itu sangat besar dampaknya bagi kesehatan kita," katanya.

Menurut Budi, keberadaan organisasi masyarakat seperti Bicara Udara yang fokus dalam menyuarakan isu terkait kualitas udara di Indonesia pun sangat diperlukan sebagai modal sosial yang luar biasa dari masyarakat untuk mengatasi masalah kesehatan Indonesia.

"Saya terima kasih sekali karena sudah diluncurkan contoh organisasi masyarakat yang konsen pada polusi udara. Mudah-mudahan ini bisa ditiru oleh organisasi-organisasi lain, sosial dan masyarakat. Sehingga seluruh bangsa Indonesia, masyarakat Indonesia, bisa bergerak bersama-sama mengatasi masalah ini," katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA