Monday, 15 Rajab 1444 / 06 February 2023

Kopi dan Sufi Dua Hal yang tak Terpisahkan

Kamis 01 Dec 2022 07:08 WIB

Red: Agung Sasongko

Maman S Mahayana (kiri) dan Ahmadun Yosi Herfanda (tengah) mengisi acara Seminar Sastra Islam dalam rangka Pergelaran Seni Islam di Teater Kecil TIM Jakarta, Jumat (25/11/2022).

Maman S Mahayana (kiri) dan Ahmadun Yosi Herfanda (tengah) mengisi acara Seminar Sastra Islam dalam rangka Pergelaran Seni Islam di Teater Kecil TIM Jakarta, Jumat (25/11/2022).

Foto: Dok YHP
Sastra religius perlu direvitalisasi.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Ritual tepung tawar oleh Kumunitas Kopi Gayo asuhan Fikar W Eda di selasar Teater Kecil TIM Jakarta  menandai  ujung rangkaian acara Pergelaran Seni Islam selama tiga hari berturut-turut, 25-27 November 2022. Acara yang diselenggarakan oleh Yayasan Hari Puisi (YHP), bekerja sama dengan Sanggar Matahari itu  diisi seminar sastra Islam, diskusi sastra, pertunjukan musikal sufisme puisi Sutardji Calzoum Bachri, dan pergelaran seni Gayo. Perhelatan  ini didukung antara lain oleh Dispusip DKI Jakarta.

Hari pertama, Jumat (25/11/2022), diisi oleh Seminar Sastra Islam di panggung Teater Kecil dengan pembicara Maman S Mahayana, Ahmadun Yosi Herfanda, dan moderator Herman Syahara. Malamnya, panggung sepenuhnya dikelola Sanggar Matahari untuk pentas uji coba Musical Sufisme yang sudah seperti pentas yang sesungguhnya. Pentas uji coba ini dikomandani oleh penyair Fikar W Eda.

Baca Juga

Hari kedua, Sabtu (26/11/2022), mulai pukul 14.00, diisi diskusi puisi Sutardji Calzoum Bachri di selasar Teater Kecil, yang diikuti para siswa dan guru dari berbagai SMA di Jakarta. Sebagai pembicara Maman S Mahayana dan Dadies Putra Siregar, dengan moderator Nana Sastrawan. Malam harinya, pertunjukan Musical Sufisme. Aspek-aspek sufistik puisi-puisi presiden penyair Indonesia ini dikemas dan disajikan secara musical oleh Sanggar Matahari secara apik. Penonton seperti tersihir oleh nuansa sufistik puisi Sutardji.

Hari ketiga, Ahad (27/11/2022), pukul 14.00, diisi Pergelaran Sastra, Sufi, dan Kopi, dan diawali diskusi dengan topik Tradisi Minum Kopi Kaum Sufi bersama Dr Juhdi Syarif dan Filosofi Kopi Kaum Sufi bersama Bastian Zulyeno PhD di selasar Teater Kecil, dengan moderator Fikar W Eda. Malamnya ditutup dengan ritual Tepung Tawar, pertunjukan baca puisi, dan happening art Doa Sengkewe. Jose Rizal Manua, Ical Figar, dan Herman Syahara, berkolabortasi dengan Komunitas Kopi Gayo, lumer dalam puisi sufiatik.

Dalam diskusi, Juhdi Syarif mengatakan, kopi dan sufi merupakan dua hal yang tak terpisahkan. Penyebaran kopi ke seluruh dunia diyakini berkat upaya kaum sufi. Kesimpulan ini telah banyak diutarakan oleh para peneliti. Antara lain oleh Bennet Alan Weinberg dan Binnie K Bealer. Menurut mereka, kaum sufi mengosumsi kopi untuk membantu mereka terjaga dari tidur. Tejuannya agar mereka tetap dapat beribadah. Ini dibenarkan oleh Bastian yang bercerita tentang tradisi minum kopi di sejumlah negara.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA