Sunday, 10 Jumadil Awwal 1444 / 04 December 2022

Perangi Krisis Energi, Jerman Siapkan Dana Stabilisasi 200 Miliar Euro

Jumat 30 Sep 2022 09:15 WIB

Red: Esthi Maharani

 Jerman memasang

Jerman memasang "payung pertahanan" hingga 200 miliar euro (196 miliar dolar AS) untuk menstabilkan ekonomi negara itu selama krisis energi

Foto: AP Photo/Michael Sohn
Harga listrik dan gas harus dibatasi untuk ringankan beban konsumen dan perekonomian

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Jerman memasang "payung pertahanan" hingga 200 miliar euro (196 miliar dolar AS) untuk menstabilkan ekonomi negara itu selama krisis energi, Kanselir Olaf Scholz mengumumkan pada Kamis (29/9/2022).

Dana Stabilisasi Ekonomi (Economic Stabilization Fund/WSF) negara itu yang dibentuk selama pandemi Covid-19 pada 2020, akan mengelola dan mendistribusikan bantuan negara.

Baca Juga

Dengan peluncuran kembali dana tersebut, Jerman juga bereaksi terhadap situasi pasokan gas yang berubah dengan Rusia, setelah kebocoran pada pipa Nord Stream 1 dan 2 menyebabkan jeda aliran yang tidak terbatas.

"Kami sangat siap untuk situasi ini," kata Scholz, seraya menambahkan bahwa dia memperkirakan "tidak akan ada pasokan gas dari Rusia di masa mendatang."

Jerman telah secara aktif mencari mitra dagang baru dan memperluas pembangkit listrik tenaga batu bara dan nuklir sejak dimulainya konflik Rusia-Ukraina. Dua dari tiga pembangkit listrik tenaga nuklir Jerman yang tersisa masih dapat dioperasikan pada kuartal pertama 2023, meskipun ada rencana penghentian nuklir pada akhir tahun ini.

Harga listrik dan gas harus dibatasi, untuk meringankan beban konsumen dan perekonomian. Sebelum krisis energi, pemerintah sudah memberikan paket bantuan inflasi senilai 95 miliar euro.

Juga pada Kamis (29/9/2022), otoritas statistik Jerman mengumumkan bahwa inflasi telah melonjak ke rekor baru 10 persen pada September. Menurut angka awal oleh Kantor Statistik Federal, harga energi naik sangat tajam, sebesar 43,9 persen tahun-ke-tahun.

Scholz juga mengatakan bahwa pungutan gas yang banyak dikritik, yang akan memungkinkan perusahaan utilitas untuk membebankan biaya energi yang tinggi kepada konsumen, sekarang tidak akan diperkenalkan. Sebaliknya, perusahaan akan menerima dukungan secara langsung, untuk menghindari beban keuangan tambahan pada warga.

Tepat sebelum Scholz mengumumkan dana stabilisasi, lembaga ekonomi terkemuka Jerman memangkas perkiraan mereka untuk 2023. Mereka sekarang memperkirakan resesi 0,4 persen, bukannya pertumbuhan 3,1 persen yang diperkirakan sebelumnya.

"Revisi ini terutama mencerminkan tingkat krisis energi," kata RWI Leibniz Institute for Economic Research, Halle Institute for Economic Research (IWH), Kiel Institute for the World Economy dan ifo Institute dalam perkiraan musim gugur bersama mereka.

"Meskipun situasi diperkirakan agak mereda dalam jangka menengah, harga gas kemungkinan akan tetap jauh di atas tingkat sebelum krisis," kata lembaga itu, memperingatkan bahwa "ini akan berarti hilangnya kemakmuran permanen bagi Jerman."

Namun, Menteri Keuangan Christian Lindner menyatakan keyakinannya bahwa langkah-langkah stabilisasi pemerintah akan membantu melindungi kemakmuran Jerman.

"Kami kuat secara ekonomi dan kami akan memobilisasi kekuatan ekonomi ini jika perlu," katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA