Thursday, 14 Jumadil Awwal 1444 / 08 December 2022

Dibayangi Resesi, Ekonomi Eropa Semakin Suram

Rabu 28 Sep 2022 17:32 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Esthi Maharani

 Kepala Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde mengatakan outlook atau prediksi ekonomi Eropa

Kepala Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde mengatakan outlook atau prediksi ekonomi Eropa

Foto: AP/Francois Mori
Kepala ECB mengatakan outlook atau prediksi ekonomi Eropa semakin suram

REPUBLIKA.CO.ID, FRANKFURT -- Kepala Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde mengatakan outlook atau prediksi ekonomi Eropa "semakin suram" dan diperkirakan beberapa bulan ke depan aktivitas bisnis "akan melambat dengan pasti". Sementara tingginya harga energi dan makanan yang didorong perang Ukraina memperlemah daya beli konsumen.

Pernyataan ini Lagarde sampaikan dalam pidatonya di Parlemen Eropa mengenai apakah zona euro akan mengalami resesi. Ia mengatakan, skenario dasar ECB pertumbuhan ekonomi melemah dengan asumsi Rusia masih memasok gas alamnya.

Baca Juga

Lagarde menambahkan, tahun depan akan menjadi tahun yang sulit dan output tiga bulan pertama tahun 2023 akan negatif.  "Seperti yang kami yakini kuartal keempat 2022 juga akan negatif," kata seperti dikutip dari ABC News, Rabu (28/9/2022).

Output negatif dua kuartal berturut-turut adalah salah satu definisi resesi. Tapi komite resesi Eropa menggunakan data yang lebih luas termasuk angka lapangan kerja.

"(Invasi Rusia ke Ukraina) masih membayangi Eropa, menaikkan harga energi yang memperdalam pengeluaran konsumen dan membuat ongkos produksi bagi pengusaha semakin tinggi," kata Lagarde.

Sementara rebound musim panas yang dialami negara-negara yang tergantung pariwisata mulai mereda. Melemahnya permintaan global memukul perekonomian Eropa pada sangat fokus pada perdagangan. Tingginya suku bunga bank sentral negara-negara besar akan memperdalam permintaan dari luar Eropa.

Bayang-bayang resesi Eropa ini diperburuk kabar dari Jerman. Perekonomian terbesar di Eropa itu mengirim sinyal resesi. Survei kepercayaan bisnis IFO yang merupakan indikator utama perekonomian Jerman menunjukkan penurunan selama empat bulan berturut-turut.

Tingginya inflasi yang dipicu kenaikan harga gas alam menekan daya beli konsumen dan memberikan beban yang berat bagi bisnis. Indeksi yang dikumpulkan  Ifo institute turun dari bulan Agustus yang sebanyak 88,5 poin menjadi 84,3 poin pada September.

"Tingginya harga komoditas dan energi memberatkan permintaan dan menekan margin keuntungan," kata ekonom zona euro ING bank  Carsten Brzeski.

"Perusahaan-perusahaan tidak dapat lagi membebankan biaya produksi yang tinggi ke konsumen dengan mudah seperti bulan-bulan awal tahun ini," tambahnya.

Pesanan perusahan menyusut sementara bisnis yang membutuhkan banyak energi seperti toko roti menghadapi tingginya biaya produksi. Sehingga mereka bertanya-tanya apakah dapat bertahan atau tidak.

Jerman sangat tergantung pada gas alam murah dari Rusia yang memotong pasokannya bahkan sebelum invasi ke Ukraina pada 24 Februari lalu. Gas dari Rusia biasanya digunakan sebagai bahan bakar penghangat ruangan, digunakan oleh pabrik dan pembangkit listrik.

Pemerintah Eropa mengatakan pemotongan pasokan ini sebagai bagian dari upaya Rusia menekan Eropa yang mendukung Ukraina lewat sanksi ekonomi terhadap Rusia.

Pemerintah negara-negara Eropa sudah mengantri untuk mendapatkan gas cair yang lebih mahal yang dapat didatangkan dari beberapa negara termasuk Amerika Serikat (AS). Tetapi pakar mengatakan Eropa masih harus berupaya keras untuk mencari bahan bakar penghangat sebelum musim dingin.

Kanselir Jerman Olaf Scholz bertandang ke Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar pada akhir pekan ini. Ia akan menandatangani beberapa kesepakatan energi.

Resesi sudah dirasakan di Inggris di mana kepala sekolah melaporkan banyak anak yang kelaparan hingga memakan penghapus atau bersembunyi di ruang bermain karena tidak bisa membeli makan siang. Para kepala sekolah mengatakan pemerintah meninggalkan sekolah dengan krisis yang menggunung.

Pesan ini sesuai survei kemiskinan pangan di sekolah yang dijadwalkan akan dipublikasikan lembaga amal Chefs in Schools bulan depan. Laporan itu mengungkapkan banyak siswa di Inggris yang kelaparan bahkan sebelum musim dingin dan naiknya tarif energi yang akan memaksa banyak keluarga memilih antara makanan dan penghangat ruangan.

The Guardian melaporkan salah satu sekolah di Lewisham, London mengatakan pada Chefs in Schools ada seorang anak yang "pura-pura makan di luar dengan kotak bekal yang kosong" sebab ia tidak memenuhi syarat makan siang gratis di sekolah. Tapi juga tidak ingin teman-temannya tahu tidak ada makanan di rumahnya.

Pekan lalu organisasi kemanusian juga memberitahu surat kabar Observer, mereka kesulitan memenuhi permintaan keluarga yang tidak dapat memberi makan anak-anak mereka.

"Kami mendengar tentang anak-anak yang begitu kelaparan hingga memakan penghapus di sekolah," kata Chief Executive Officer Chefs in Schools Naomi Duncan. "Anak-anak datang belum makan apa-apa sejak makan siang satu hari sebelumnya, pemerintah harus melakukan sesuatu," tambahnya.  

Di Inggris, anak bayi sampai berusia dua tahun berhak mendapatkan makan gratis. Tapi setelah itu hanya anak-anak yang penghasilan orang tuanya kurang dari 7.400 poundsterling per tahun yang mendapatkan makan siang gratis. Child Poverty Action Group mengatakan 800 ribu anak yang hidup dalam kemiskinan tidak memenuhi syarat.

sumber : AP
Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA