Monday, 30 Safar 1444 / 26 September 2022

Pelantikan Presiden Baru Kenya Diwarnai Kerusuhan

Selasa 13 Sep 2022 20:57 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih

 Presiden Terpilih Kenya William Ruto berbicara kepada media di kediaman resminya di Nairobi, Kenya Senin, 5 September 2022.

Presiden Terpilih Kenya William Ruto berbicara kepada media di kediaman resminya di Nairobi, Kenya Senin, 5 September 2022.

Foto: AP/Brian Inganga
Kerusuhan warnai pelantikan William Ruto sebagai presiden Kenya yang baru

REPUBLIKA.CO.ID, NAIROBI -- William Ruto dilantik sebagai presiden Kenya yang baru pada Selasa (13/9/2022). Dalam acara terjadi kerusuhan yang membuat banyak orang terluka dan kehancuran fasilitas di luar Pusat Olahraga Kasarani yang berkapasitas 60 rivu kursi di Nairobi.

Seorang petugas medis mengatakan sebuah pagar di stadion Nairobi runtuh setelah orang-orang mendorongnya dan sekitar 60 orang terluka, meskipun jumlahnya mungkin bertambah. “Kami harus merawat beberapa dengan luka ringan. Sebagian besar dari mereka dilarikan ke rumah sakit utama di Nairobi,” kata Peter Muiruri.

Baca Juga

Orang-orang berusaha menghindari pasukan keamanan yang menggunakan tongkat. “Saya dipukuli oleh polisi setelah mencoba masuk ke dalam,” kata salah satu saksi Benson Kimutai.

Ruto menang tipis dalam pemilihan 9 Agustus di negara demokrasi paling stabil di Afrika Timur atas tokoh oposisi lama Raila Odinga. Ruto mengambil alih kekuasaan di negara yang terbebani oleh utang itu.

Sosok Ruto telah menjadi wakil bagi Presiden Uhuru Kenyatta. Hubungan keduanya menjadi tidak baik sehingga membuat mereka tidak berbicara selama berbulan-bulan pada suatu waktu. Kenyatta pada Senin (12/9/2022) secara terbuka mengucapkan selamat kepada Ruto untuk pertama kalinya atas kemenangannya.

Dengan transisi tersebut, kepresidenan Kenya berpindah dari satu pemimpin yang didakwa oleh Pengadilan Kriminal Internasional ke pemimpin lainnya. Baik Kenyatta maupun Ruto didakwa atas peran dalam kekerasan pascapemilu 2007 yang mematikan, tetapi kasus-kasus itu kemudian ditutup di tengah tuduhan intimidasi saksi.

Pemilu Agustus berlangsung damai di negara dengan sejarah kekerasan politik. Kekacauan meletus hanya di menit-menit terakhir ketika komisi pemilihan umum terpecah dan para pendukung Odinga mencoba untuk secara fisik menghentikan deklarasi Ruto sebagai pemenang.

Ruto berbicara tentang demokrasi dan telah bersumpah tidak akan ada pembalasan terhadap suara-suara yang berbeda pendapat. Sedangkan Odinga menyatakan dalam sebuah pernyataan pada Senin, akan melewatkan pelantikan dan kemudian akan mengumumkan langkah selanjutnya untuk berusaha memperdalam dan memperkuat demokrasi.

Meskipun Odinga juga menegaskan bahwa hasil pemilihan tetap tidak pasti, seorang juru bicara mengatakan, sangat tidak mungkin dia akan berusaha untuk menyatakan dirinya sebagai "presiden rakyat". Upaya itu pernah dia lakukan setelah kalah dalam pemilihan 2017.

sumber : AP
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA