Wednesday, 6 Jumadil Awwal 1444 / 30 November 2022

IDAI akan Jewer Dokter Anak yang Rekomendasikan Susu Formula 

Ahad 07 Aug 2022 06:48 WIB

Rep: Febryan A/ Red: Muhammad Hafil

 IDAI akan <em>Jewer</em> Dokter Anak yang Rekomendasikan Susu Formula. Foto: Susu formula (ilustrasi)

IDAI akan Jewer Dokter Anak yang Rekomendasikan Susu Formula. Foto: Susu formula (ilustrasi)

Foto: childrenclinic.wordpress.com
Susu formula tidak lebih baik dari ASI.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso menegaskan bahwa pihaknya akan menegur anggota yang kedapatan menganjurkan susu formula untuk bayi. Sebab, nutrisi terbaik untuk bayi adalah Air Susu Ibu (ASI), bukan susu buatan pabrik.

"Kalau ketemu tenaga kesehatan (dokter anak) yang merekomendasikan susu formula, silakan lapor ke IDAI," kata Piprim dalam Seminar Media Dalam Rangka World Breastfeeding yang digelar IDAI secara daring, Sabtu (6/8/2022). 

Baca Juga

Ia meminta masyarakat untuk melaporkan nama dan tempat dokter itu praktik. Selanjutnya, dokter itu akan diproses oleh Badan Pembinaan dan Pembelaan Anggota (BP2A) IDAI. 

"Nanti akan kita sapa, kita tanya, dan lain-lain. Silakan lapor, nanti kita jewer dokter anak yang menganjurkan susu formula," ungkap Piprim menegaskan. 

Ketua Satuan Tugas Air Susu Ibu (ASI) IDAI Naomi Esthernita F Dewanto menjelaskan, ASI jauh lebih baik dibandingkan susu formula. Sebab, susu formula hanya mengandung nutrisi. Sedangkan ASI mengandung nutrisi sekaligus zat anti infeksi dan zat pendorong pertumbuhan anak. 

Meski demikian, angka bayi Indonesia yang mendapatkan ASI masih rendah. Berdasarkan data Dana Anak Perserikatan Bangsa - Bangsa (UNICEF) tahun 2021, hanya 50 persen bayi di Indonesia yang mendapatkan ASI eksklusif enam bulan. Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menargetkan angka 70 persen. 

Menurut Naomi, salah satu penyebab rendahnya angka bayi yang mendapat ASI adalah karena orang tua semakin banyak memilih memberikan susu formula kepada si buah hatinya. Mereka meyakini susu formula lebih baik karena termakan pesan-pesan dalam iklan susu formula. 

"Ternyata marketing susu pengganti ASI ini punya dampak negatif pada praktik menyusui," kata Kepala Departemen Pediatri Universitas Tarumanegara itu, dalam kesempatan sama.

 

 

 

 

 

 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA