Saturday, 2 Jumadil Awwal 1444 / 26 November 2022

Wapres: Islam Junjung Tinggi Nilai-Nilai Kemanusiaan

Jumat 05 Aug 2022 18:32 WIB

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Agung Sasongko

Wakil Presiden Maruf Amin saat mengunjungi Islamic Book Fair 2022 di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta, Jumat (5/8).

Wakil Presiden Maruf Amin saat mengunjungi Islamic Book Fair 2022 di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta, Jumat (5/8).

Foto: Republika/Fauziah Mursid
Sejak awal kedatangannya, Islam telah menjelma sebagai peradaban.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Presiden Ma'ruf Amin menegaskan Islam adalah agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Menurutnya, sejak awal kedatangannya, Islam telah menjelma sebagai peradaban dan menganggap manusia sebagai saudara satu keturunan.

"Islam adalah agama menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, sehingga Islam sejak awal kedatangannya telah menjelma sebagai peradaban dan menganggap manusia seluruhnya dengan berbagai etnis bangsa dan negara sebagai saudara satu keturunan," kata Kiai Maruf saat menghadiri acara Diskusi Panel tentang Persaudaraan dan Konsistensi” pada Islamic Book Fair 2022 yang diselenggarakan oleh Majelis Hukama al-Muslimin di Hall A Jakarta Convention Center, Jakarta Pusat, Jumat (5/8/2022).

Baca Juga

Dalam sambutan berjudul Dimensi Kemanusiaan dalam Peradaban Islam, Kiai Ma'ruf merangkan dalam Alquran kedudukan semua manusia apa pun suku dan bangsanya adalah setara, karena berasal dari sumber keturunan yang sama.

Bahkan, kata Kiai Ma'ruf, dalam ajaran Islam, umat manusia memililiki kedudukan yang sangat tinggi, yakni sebagai khalifah (pemimpin) bumi selama memiliki perilaku baik dan melahirkan hal-hal positif untuk membangun peradaban.

"Tetapi, ketika manusia itu tidak memiliki perilaku yang baik dan konstruktif, maka manusia itu kemudian kedudukannya menjadi makhluk yang paling rendah," kata dia.

Bukti lain, kata Kiai Ma'ruf, Islam memerintahkan umat manusia untuk memakmurkan bumi demi menjaga keberlangsungan peradaban. Salah satunya dengan memberdayakan ekonomi masyarakat.

"Karena itu, kita ingin pondok pesantren selain menjadi pencetak orang yang mengerti agama, tetapi juga tempat pemberdayaan ekonomi masyarakat," katanya.

Kiai Ma'ruf juga menerangkan dalam membangun harmoni dan kerukunan di Indonesia, umat Islam perlu mengembangkan prinsip tri ukhuwwah (persaudaraan), yakni ukhuwah Islâmiyyah (persaudaraan dalam agama Islam), ukhuwwah wathaniyyah (persaudaraan kebangsaan), dan ukhuwwah insâniyyah (persaudaraan kemanusiaan).

"Untuk menjaga atau merawat kondisi tersebut, kita perlu memperkuat pemahaman agama secara moderat (wasathiyyah), sesuai dengan maqâshid al-syarî’ah (tujuan syariah)," ujarnya.

Anggota Eksekutif Majelis Hukama al-Muslimin Muhammad Zainul Majdi (Tuan Guru Bajang) menyampaikan diskusi panel kali ini salah satunya bertujuan untuk menjawab tantangan islamophobia.

"Melawan islamophobia tidak cukup hanya dengan narasi dan kata-kata, tetapi dengan contoh yang nyata dari sejarah bagaimana peradaban Islam mampu memanusiakan umat manusia," katanya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA