Wednesday, 6 Jumadil Awwal 1444 / 30 November 2022

AS: Tidak Bisa Lagi Berperilaku Biasa dengan Myanmar

Selasa 26 Jul 2022 12:25 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Friska Yolandha

 Juru bicara Departemen Luar Negeri Ned Price berbicara dalam konferensi pers di Departemen Luar Negeri di Washington, Senin, 28 Februari 2022. Amerika Serikat (AS) mengatakan tidak bisa lagi memperlakukan penguasa militer Myanmar dengan sikap biasa atau business as usual setelah junta mengeksekusi empat aktivis demokrasi.

Juru bicara Departemen Luar Negeri Ned Price berbicara dalam konferensi pers di Departemen Luar Negeri di Washington, Senin, 28 Februari 2022. Amerika Serikat (AS) mengatakan tidak bisa lagi memperlakukan penguasa militer Myanmar dengan sikap biasa atau business as usual setelah junta mengeksekusi empat aktivis demokrasi.

Foto: AP/Andrew Harnik/AP Pool
AS sedang mempertimbangkan semua opsi untuk menambah hukuman pada junta.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Amerika Serikat (AS) mengatakan tidak bisa lagi memperlakukan penguasa militer Myanmar dengan sikap biasa atau business as usual setelah junta mengeksekusi empat aktivis demokrasi. AS juga sedang mempertimbangkan semua opsi untuk menambah hukuman pada junta.

Dalam konferensi pers juru bicara Departemen Luar Negeri Ned Price meminta negara-negara lain untuk tidak menjual peralatan militer ke Myanmar. Serta menahan setiap tindakan yang dapat mempertahankan kredibilitas junta di panggung internasional.

Baca Juga

Saat ditanya apakah pemerintah Presiden Joe Biden mempertimbangkan sanksi pada industri gas Mynamar yang tidak termasuk dalam sanksi AS sebelumnya. Price mengatakan AS sedang membahas langkah lebih lanjut, semua opsi ada di atas meja.

"Ini merupakan kekejaman mengerikan yang junta lakukan, tidak akan ada perlakuan biasa pada rezim ini," kata Price, Selasa (26/7/2022).  

Vonis hukuman mati dijatuhkan dalam sidang rahasia pada bulan Januari dan April. Empat aktivis dituduh membantu gerakan perlawanan sipil yang memerangi militer sejak kudeta tahun lalu. Eksekusi mati Myanmar pertama dalam tiga puluh tahun itu memicu kecaman internasional.

Price mengatakan tidak ada negara yang memiliki pengaruh paling besar dari Cina. Sementara ia juga meminta kelompok negara-negara ASEAN untuk mempertahankan larangan perwakilan Myanmar menghadiri rapat blok tersebut. 

sumber : Reuters
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA