Monday, 17 Muharram 1444 / 15 August 2022

Mengenal Virginia Apgar, Penemu Skor Apgar pada Bayi Baru Lahir

Kamis 07 Jul 2022 17:04 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani /Setyanavidita Livikacansera/ Red: Dwi Murdaningsih

Virginia Apgar.

Virginia Apgar.

Foto: Republican file/Mount Holyoke via masslive
Skor Apgar dikembangkan pada 1952 dan masih digunakan sampai sekarang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Virginia Apgar adalah ilmuwan sekaligus dokter yang mengkhususkan diri dalam anestesi. Dr Apgar adalah pemimpin di bidang anestesiologi, pada era di mana profesi sebagai spesialis medis profesional bagi seorang perempuan terbilang masih langka. 

Pada 1938, ia menjadi direktur divisi baru anestesiologi di Rumah Sakit Presbyterian, yang sekarang dikenal sebagai New YorkPresbyterian/Columbia University Irving Medical Center.

Baca Juga

Di sana ia mendirikan program pendidikan anestesiologi dan mengoordinasikan layanan dan penelitian anestesiologi. Pada 1949, Apgar, yang saat itu menjadi guru terkenal, menjadi wanita pertama yang diangkat sebagai profesor penuh di Columbia University College of Physicians and Surgeons.

Selama waktu ini, ia mempelajari efek anestesi pada wanita dan bayi selama proses persalinan dan melahirkan. Pengalaman ini juga yang kemudian membawanya untuk mengembangkan skor Apgar pada 1952.

Skor Apgar masih digunakan sampai sekarang di seluruh dunia. Tes ini mengukur warna kulit bayi baru lahir, denyut nadi, refleks, tonus otot, dan pernapasan segera setelah lahir untuk menunjukkan bayi mana yang mungkin mendapat manfaat dari perhatian medis lebih lanjut.

Skor Apgar juga telah berperan dalam menurunkan angka kematian bayi dan membantu menginspirasi perkembangan neonatologi, subspesialis pediatrik yang berfokus pada perawatan medis bayi baru lahir.

Sedikit berbeda dari para penemu perempuan lainnya, Apgar dikenal luas akan kontribusi yang ia berikan di dunia medis. Ia dikenal dengan tekadnya untuk selalu memberikan bantuan pada orang yang mengalami gangguan pernapasan. 

"Tidak seorang pun yang akan berhenti bernapas selama ada saya," katanya, dikutip dari Newsweek.

Tekad ini juga yang membuat ia dikenal selalu membawa peralatan resusitasi bersamanya. Hal ini membuatnya telah menyelamatkan lebih kurang 16 nyawa yang ia temui dan membutuhkan bantuan pernapasan.

Apgar juga dikenal sebagai perempuan yang vokal terhadap adanya ketidaksetaraan gender dalam berbagai aspek kehidupan. Apgar selalu menegaskan bahwa menjadi wanita tidak memiliki pengaruh langsung terhadap segala pencapaian kariernya. "Semua perempuan bisa menjadi apa pun, sejak ia dilahirkan," kata Apgar meyakini. 

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA