Monday, 30 Safar 1444 / 26 September 2022

Polisi Beberkan Kronologis Dua Bobotoh Tewas saat Persib  Persebaya

Sabtu 18 Jun 2022 12:51 WIB

Rep: Muhammad Fauzi Ridwan/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Penyerang Persib Bandung, David Da Silva membayangi bek Persebaya Dandi Maulana pada laga Grup C Piala Presiden di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung, Jumat (17/6/2022). Polisi membeberkan kronologi peristiwa dua orang bobotoh yang meninggal dunia saat pertandingan Persib Bandung melawan Persebaya Surabaya di Stadion GBLA, Kota Bandung berlangsung kemarin, Jumat (17/6/2022). Dua bobotoh berasal dari Bandung dan Bogor.

Penyerang Persib Bandung, David Da Silva membayangi bek Persebaya Dandi Maulana pada laga Grup C Piala Presiden di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung, Jumat (17/6/2022). Polisi membeberkan kronologi peristiwa dua orang bobotoh yang meninggal dunia saat pertandingan Persib Bandung melawan Persebaya Surabaya di Stadion GBLA, Kota Bandung berlangsung kemarin, Jumat (17/6/2022). Dua bobotoh berasal dari Bandung dan Bogor.

Foto: Republika/Yogi Ardhi
Polisi sebut korban meninggal berada pada kerumunan yang hendak antre masuk

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Polisi membeberkan kronologi peristiwa dua orang bobotoh yang meninggal dunia saat pertandingan Persib Bandung melawan Persebaya Surabaya di Stadion GBLA, Kota Bandung berlangsung kemarin, Jumat (17/6/2022). Dua bobotoh berasal dari Bandung dan Bogor.

Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Aswin Sipayung mengatakan petugas kepolisian melakukan pengamanan pada 26 pintu di Stadion GBLA. Penonton yang hendak memasuki stadion harus menyerahkan tiket di empat pintu yang disediakan.

Baca Juga

"Sesuai dengan rencana pengamanan 26 pintu itu kita jaga, di atas untuk akses ke tempat penonton, kemudian di bawah juga ada, ada empat pintu masuk untuk akses sobek karcis, itu juga kita tempatkan personel lengkap," ujarnya disela-sela mengunjungi korban meninggal dunia di Jalan Cibaduyut, Sabtu (18/6/2022).

Ia menuturkan penonton yang hendak memasuki area tribun harus menunjukkan karcis dan yang tidak memiliki karcis tidak boleh masuk. Namun, banyak penonton yang tidak sabar ingin masuk ke area tribun stadion.

"Banyak yang ingin masuk tidak sabar, ingin buru-buru masuk kemudian ada korban di luar yah, di depan pintu sobek karcis bukan di dalam gedung (stadion)," ujarnya. Pihaknya menduga banyak yang ingin masuk dengan buru-buru.

"Jadi, dugaannya itu adalah tidak sabar ingin masuk, terburu-buru. Padahal sudah diimbau agar antre dan antreannya juga sudah ada, kemudian diminta menunjukkan tiket baik dari telepon genggam maupun tiket karcis atau hard copynya," katanya.

Aswin mengatakan para suporter terlihat ingin cepat masuk tribun tanpa memperhatikan keselamatan. Bahkan terdapat yang pingsan dan petugas memberikan pertolongan.

"Kebanyakan dari penonton ingin buru-buru masuk, tapi melupakan keselamatan. Kemudian tiba-tiba ada yang pingsan dan kita bawa ke Rumah Sakit (RS), diberikan pertolongan oleh pihak RS," katanya.

Ia mengatakan korban meninggal dunia saat kejadian berada pada kerumunan yang hendak antre masuk ke tribun. Pihaknya selalu mengingatkan penonton untuk tertib dan menunjukkan tiket.

"Iya, kerumunan yang antre masuk, diimbau oleh polisi yang jaga di situ agar antre tertib, yang punya tiket menunjukkan tiketnya dan yang tidak punya agar mundur dan itu selalu disampaikan oleh petugas kita," katanya.

Ia mengatakan pihaknya membawa korban yang pingsan ke ambulans dan dibawa ke Rumah Sakit Sartika Asih. Waktu kejadian bobotoh meninggal sendiri pihak dokter yang mengetahui.

Selain itu tidak terdapat luka-luka, benturan atau tawuran pada korban yang meninggal dunia. Mereka diduga pingsan karena berdesak-desakan.

"Tidak ada luka-luka, tidak ada benturan atau tawuran, waktu menonton itu mereka gabung Bobotoh dan Bonek. Dugaan korban berdesakan," katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA