Monday, 7 Rabiul Awwal 1444 / 03 October 2022

Satria Dewa: Gatotkaca Tayang 9 Juni di Bioskop, Dikemas Modern dan Kekinian

Ahad 05 Jun 2022 02:45 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah

Film 'Satria Dewa: Gatotkaca' digarap sutradara kondang Hanung Bramantyo.

Film 'Satria Dewa: Gatotkaca' digarap sutradara kondang Hanung Bramantyo.

Foto: Youtube
Film 'Satria Dewa: Gatotkaca' digarap sutradara kondang Hanung Bramantyo.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Film heroik asal Indonesia “Satria Dewa: Gatotkaca” akhirnya bakal tayang di bioskop mulai 9 Juni 2022. Di tangan Hanung Bramantyo selaku sutradara, tokoh dalam wiracarita Mahabharata itu bakal dikemas menjadi lebih modern dan kekinian.

“Jadi jangan pikir film ini seperti kalau kita nonton wayang, enggak. Bahasanya juga seperti kita sekarang, kami pokoknya mencoba mendekatkan diri ke penonton muda,” kata produser film Celerina Judisari saat berkunjung ke kantor Republika, beberapa waktu lalu.

Baca Juga

Layaknya Marvel Studio, perusahaan produksi Satria Dewa Studio juga akan membuat semesta atau jagat yang diambil dari karakter wayang Indonesia. Dan Gatotkaca, menjadi cerita pembuka untuk universe tersebut.

“Setelah Gatotkaca, nanti akan ada film Arjuna, dan seterusnya. Mudah-mudahan setiap tahun kami bisa merilis satu film,” kata Celerina.

Karena “Satria Dewa: Gatotkaca” merupakan film pertama, Celerina dan tim berupaya menciptakan format cerita yang kuat, logis, dan tidak membosankan. Misalnya mereka menggunakan landasan genetik untuk mengaitkan kekuatan super Gatotkaca dengan karakter Yudha (Rizky Nazar).

Dalam penulisan skenario, Celerina menggandeng Rahabi Mandra untuk mengerjakannya. Menurut dia, Rahabi sangat berkompeten menggarap cerita adaptasi. 

“Untuk nulisnya lumayan cepet sih. Cuma memang selama nulis kita banyak runding, kita pikirin betul seperti apa kekuatannya, bagaimana asal-usul kekuatan itu, logikanya harus tetap ada,” jelas dia.

Lebih jauh Celerina menjelaskan bahwa film ini menjadi upaya untuk membangkitkan kecintaan akan superhero lokal. Karena menurut dia, saat ini superhero lokal posisinya sudah tergeser oleh superhero asing. Padahal, legenda-legenda heroik asli Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan di industri film.

“Gatotkaca ini kan hero asli Indonesia. Memang ada yang bilang ini dari India, tapi ini lebih mengacu pada pewayangan Jawa. Jadi local wisdom Indonesia lah,” kata Celerina.

Mengingat film ini mendapat rating semua umur, dia pun mengajak para orang tua untuk tak ragu memboyong buah hati menonton film “Satria Dewa: Gatotkaca”. Karena ada banyak pesan positif dan pembelajaran yang bisa diambil dari film.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA