Tuesday, 11 Muharram 1444 / 09 August 2022

Sri Mulyani: APBN Lanjutkan Perbaikan, Surplus Rp 103,1 T pada April 2022

Senin 23 May 2022 21:06 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Fuji Pratiwi

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan keterangan pers APBN KITA di kantor Kemenkeu, Jakarta, Senin (23/5/2022). Pemerintah mencatat posisi keuangan negara mengalami surplus sebesar Rp 103,1 triliun pada April 2022.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan keterangan pers APBN KITA di kantor Kemenkeu, Jakarta, Senin (23/5/2022). Pemerintah mencatat posisi keuangan negara mengalami surplus sebesar Rp 103,1 triliun pada April 2022.

Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
APBN telah bekerja keras untuk mendukung pemulihan ekonomi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Pemerintah mencatat posisi keuangan negara mengalami surplus Rp 103,1 triliun pada April 2022. Adapun kondisi ini diikuti keseimbangan primer yang juga surplus Rp 220,9 triliun atau naik 431,5 persen dibandingkan tahun lalu yang defisit Rp 36,5 triliun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, APBN telah bekerja keras untuk mendukung pemulihan ekonomi. Bahkan APBN telah menjadi peredam guncangan dari tekanan eksternal.

Baca Juga

"Secara umum, postur APBN sampai akhir April 2022 dalam posisi surplus. APBN menjadi instrumen pertama dan utama yang diandalkan masyarakat," ujarnya saat konferensi pers APBN KiTA secara virtual, Senin (23/5/2022).

Pada April 2021, APBN masih defisit Rp 138,2 triliun, sehingga dengan surplus sebesar Rp 103,1 triliun pada April 2022, maka pertumbuhannya mencapai 174,7 persen. Pada Maret 2022 surplus sebesar Rp 10,3 triliun.

"Demikian juga dari sisi total keseimbangan APBN kita sampai akhir April dalam kondisi sangat surplus, sangat besar. Baik dalam keseimbangan primer, maupun dari sisi total balance, yaitu surplus 0,58 persen dari GDP," ucapnya.

Sri Mulyani menjelaskan, surplus APBN membuat pembiayaan utang merosot tajam. Pada Maret 2022, pemerintah hanya pembiayaan anggaran Rp 142 triliun atau turun 64, 1 persen dari April tahun lalu sebesar Rp 397 triliun. 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA