Saturday, 3 Zulhijjah 1443 / 02 July 2022

Jose Mourinho Bawa Harapan Baru untuk AS Roma di Serie A dan Eropa

Senin 23 May 2022 12:07 WIB

Rep: Eko Supriyadi/ Red: Endro Yuwanto

Pelatih AS Roma, Jose Mourinho.

Pelatih AS Roma, Jose Mourinho.

Foto: EPA-EFE/ANGELO CARCONI
Roma akan tampil di final Liga Konferensi Eropa melawan Feyenoord.

REPUBLIKA.CO.ID, ROMA -- Jose Mourinho membawa harapan baru bagi AS Roma. Setelah menggantikan posisi pelatih Paulo Fonseca pada akhir musim 2020/2021, Roma mampu menjadi tim yang bersaing di papan atas Seri A Liga Italia, bahkan di kancah Eropa.

Skuad Giallorossi kini akan tampil di final Liga Konferensi Eropa melawan Feyenoord. Roma juga finis di peringkat enam klasemen Seri A dan lolos ke Liga Europa musim depan.

Baca Juga

Penampilan Roma di Liga Konferensi Eropa dinilai sebagai langkah mundur bagi Mourinho. Sebab pelatih yang berjuluk the Special One itu telah memenangkan trofi Liga Champions, Piala Winner, hingga Liga Europa. Namun, mantan pelatih Chelsea dan Manchester United itu menegaskan kalau tampil di Liga Konferensi Eropa bukan kemunduran kariernya sebagai seorang pelatih.

Sebab, faktanya Roma tidak pernah memenangkan trofi Eropa sehingga jalan ini akan menjadi sangat berbeda baginya. Bahkan, pelatih asal Portugal itu menganggap Liga Konferensi ini sudah seperti Liga Champions.

Sebab, Mourinho mengakui level Roma saat ini memang ada di kompetisi kasta ketiga antarklub Eropa tersebut. Sehingga ia berjanji akan berjuang untuk bisa juara karena Roma belum pernah mencapai final untuk waktu yang sangat lama.

''Saya seorang pelatih dengan sejarah yang jelas dan Roma adalah klub besar. Saya merasa sedikit memiliki tanggung jawab untuk menjadikan ini kompetisi besar. Kami perlahan menyadari ambisi kami untuk melangkah sejauh mungkin,'' kata Mourinho dikutip dari Football-Italia, Ahad (22/5/2022).

Roma bukan hanya belum pernah juara di Eropa. Giallorossi juga belum lagi mengangkat satu trofi pun sejak musim 2007/2008, yakni Coppa Italia dan Supercoppa Italia. Oleh karena itu, hadirnya Mourinho dinilai menjadi harapan baru Roma untuk memutuskan puasa gelar yang cukup lama.

Apalagi, mantan pelatih Real Madrid itu pernah sukses di Italia ketika melatih Inter Milan pada 2009/2010. Ia membawa Nerazzurri meraih treble, yaitu scudetto Seri Coppa Italia, dan Liga Champions.

Tapi Mourinho sadar perjalanan tidak mudah untuk membuat Roma sama suksesnya dengan Inter di masa lalu. Menurutnya, setiap target baru, maka klub harus bisa lebih baik dari sebelumnya.

''Memenangkan yang pertama berarti Anda bisa berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat. Memenangkan yang kedua lebih sulit, memenangkan yang ketiga bahkan lebih sulit dari yang kedua. Ini adalah satu hal untuk menang. Hal lain untuk mencapai kesuksesan dan menang terus menerus untuk seluruh karier Anda,'' jelas Mourinho.

Salah satu pemain yang paling menonjol dari era Mourinho di Stadion Olimpico adalah Tammy Abraham. Ia telah mencetak sembilan gol dalam 13 penampilan di Liga Konferensi. Setelah pindah dari Inggris musim panas lalu, pemain berusia 24 tahun itu diberi kesempatan untuk mencetak gol.

Abraham menunjukkan perkembangan yang luar biasa dengan seragam Roma ketika tampil imbang dengan Leicester City di semifinal. Meski tidak mencetak gol ke gawang Leicester, tapi penampilannya dalam hasil akhir 1-1 itu penuh semangat.

Abraham kemudian mendapatkan momen sepekan kemudian ketika mencetak satu-satunya gol untuk membawa Roma ke Albania dalam laga final. ''Ini adalah permainan saya untuk menunjukkan apa yang telah saya pelajari di Italia,'' kata mantan pemain Chelsea tersebut.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA