Meski Mulai Memudar, Semangat Penabuh Genderang Ramadhan Suriah Tetap Membara

Rep: mgrol135/ Red: Ani Nursalikah

 Sabtu 16 Apr 2022 11:23 WIB

Musaharati, penabuh genderang Ramadhan di Suriah. Tradisi membangunkan sahur ini mulai memudar di Suriah. Meski Mulai Memudar, Semangat Penabuh Genderang Ramadhan Suriah Tetap Membara Foto: Iraqi News Musaharati, penabuh genderang Ramadhan di Suriah. Tradisi membangunkan sahur ini mulai memudar di Suriah. Meski Mulai Memudar, Semangat Penabuh Genderang Ramadhan Suriah Tetap Membara

Hanya tersisa 30 penabuh genderang Ramadhan di Damaskus, Suriah.

REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS -- Tradisi penabuh genderang Ramadhan membangunkan umat untuk sahur memudar di seluruh dunia Muslim. Tradisi ini terus berlanjut di ibu kota Suriah meskipun ketergantungan pada ponsel meningkat.

 

Baca Juga

Sekitar satu jam sebelum adzan subuh dikumandangkan, penabuh genderang Ramadhan yang dikenal sebagai musaharati berjalan melalui jalan-jalan sempit untuk membangunkan sahur. Dilansir dari Iraqi News, Selasa (11/4/2022), Hasan al-Rashi (60 tahun) merupakan salah satu dari 30 musaharati yang tersisa di Damaskus.

 

Suaranya memecah kesunyian malam di Kota Tua ibu kota, saat dia bernyanyi dan menabuh genderangnya. “Meskipun munculnya ponsel pintar dan teknologi lainnya, orang masih suka bangun dengan suara musaharati,” kata Rashi.

 

“Musharati adalah bagian dari adat dan tradisi masyarakat Damaskus selama bulan Ramadhan. Ini adalah warisan yang tidak akan kami tinggalkan,” tambahnya.

 

Saat melakukan tugas musaharati, Rashi membawa tongkat bambu di satu tangan dan drum yang terbuat dari kulit kambing di tangan lainnya. Dia berjalan cepat dari rumah ke rumah, menggunakan tongkatnya untuk mengetuk pintu keluarga yang meminta jasanya.

 

“Bangun untuk sahur, Ramadhan telah datang untuk mengunjungi Anda,” Rashi bernyanyi.

 

Meskipun mereka menerima hadiah, musaharati biasanya tidak mengharapkan imbalan finansial. Mereka terkadang membawa tas atau keranjang jerami untuk menyimpan makanan dan hadiah lain yang diberikan kepada mereka. Untuk Rashi, ini bukan tentang menerima barang gratisan.

 

“Kami merasakan kegembiraan ketika kami pergi keluar setiap hari. Beberapa anak terkadang mengikuti kami dan meminta untuk menabuh genderang,” katanya.

 

Menjelang adzan, Sharif Resho meminta segelas air kepada salah satu tetangganya sebelum memulai puasa. Musaharati yang berusia 51 tahun biasanya menemani Rashi setiap malam, juga menabuh genderang dan bernyanyi.

 

“Peralatan saya sederhana, yaitu suara, gendang, dan tongkat saya,” katanya.

 

Resho, yang ayahnya juga seorang penabuh genderang Ramadhan, telah menjalankan tugas Musaharati selama hampir seperempat abad. Perang Suriah selama lebih dari satu dekade dan pandemi virus corona tidak menghentikannya untuk melanjutkan.

"Saya akan terus membangunkan orang-orang untuk sahur selama saya masih memiliki suara di tenggorokan saya. Ini adalah kewajiban yang saya warisi dari ayah saya, yang akan saya wariskan kepada putra saya," kata Resho.

 

 

https://www.iraqinews.com/arab-world-news/syrias-ramadan-drummers-defiant-as-tradition-wanes/

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...

Berita Lainnya

Play Podcast X