Bacaan Doa, Tahlil, dan Adab Saat Ziarah Kubur Jelang Ramadhan

Rep: mgrol135/ Red: Ani Nursalikah

 Senin 28 Mar 2022 18:01 WIB

Warga saat berziarah di TPU Karet Bivak, Jakarta, Ahad (27/3/2022). Menjelang bulan suci Ramadhan, umat Muslim melakukan ziarah kubur untuk mendoakan sanak keluarga dan kerabat yang sudah wafat. Republika/Putra M. Akbar Foto: Republika/Putra M. Akbar Warga saat berziarah di TPU Karet Bivak, Jakarta, Ahad (27/3/2022). Menjelang bulan suci Ramadhan, umat Muslim melakukan ziarah kubur untuk mendoakan sanak keluarga dan kerabat yang sudah wafat. Republika/Putra M. Akbar

Tujuan ziarah kubur jelang Ramadhan mengingatkan kita pada kehidupan akhirat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kata ziarah secara harfiah berarti melihat, oleh karena itu ziarah ke kubur berarti mengunjungi kuburan. Sedangkan menurut hukum Islam, ziarah kubur dilakukan dengan maksud mendoakan orang yang dikubur dan mengirimkan pahala karena membaca ayat-ayat Alquran dan kalimat thayyibah seperti tahlil, tahmid, tasbih, shalawat, dan lain-lain. 

Ziarah kubur bukan sekadar untuk berziarah atau belajar dan memahami kondisi kuburan. Dikutip dari buku Panduan Ziarah Kubur: Halaqoh Malam Kamis karangan Sutejo Ibnu Pakar terbitan CV Aksarasatu, ziarah kubur hukumnya sunnah.

Baca Juga

Hal ini sebagaimana hadits riwayat Ahmad, Muslim dan Ashhabussunan dari Abdullah bin Buraidah yang diterima dari bapaknya bahwa Nabi SAW bersabda:

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقَبْرِ فَزُوْرُهَا فَاِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ اْلاٰخِرَةِ

Artinya: “Dahulu saya melarang menziarahi kubur, adapun sekarang berziarah ke sana, karena yg demikian itu akan mengingatkanmu akan hari akhirat”. (HR. Ahmad, Muslim, dan Ashabus Sunan)

Rasulullah SAW melarang umat Islam melakukan ziarah ke kuburan pada hari-hari awal Islam. Hal ini dilakukan untuk menjaga aqidah umat Islam. Rasulullah SAW khawatir dengan mengizinkan umat Islam berziarah ke kuburan akan mengubah mereka menjadi pemuja kubur.

Tujuan berziarah ke makam, menurut buku A-Z Ziarah Kubur dalam Islam karangan Firman Arifandi terbitan Rumah Fiqih, berdasarkan hadits diatas, adalah untuk mengingatkan kita pada kehidupan akhirat agar kita terilhami memberikan bekal yang diperlukan selama kita masih di dunia ini. Tentu saja hal ini dibolehkan dalam agama karena dunia ini hanya sementara dan berfungsi sebagai tempat penyimpanan amal kebaikan untuk persiapan akhirat.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X