Wednesday, 17 Syawwal 1443 / 18 May 2022

Sejarah Hari Ini: AS Mulai Invasi Irak

Senin 21 Mar 2022 11:06 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Friska Yolandha

Mantan presiden AS, George W Bush. Pada 20 Maret 2003, rudal Amerika Serikat (AS) telah menghantam ibu kota Irak, Baghdad.

Mantan presiden AS, George W Bush. Pada 20 Maret 2003, rudal Amerika Serikat (AS) telah menghantam ibu kota Irak, Baghdad.

Foto: AP
AS berupaya menggulingkan Saddam Hussein.l yang dituduh punya senjata pemusnah massal

REPUBLIKA.CO.ID, BAGHDAD -- Pada 20 Maret 2003, rudal Amerika Serikat (AS) telah menghantam ibu kota Irak, Baghdad. Serangan ini menandakan dimulainya upaya pimpinan AS untuk memburu hingga menggulingkan Saddam Hussein.

Presiden AS kala itu, George Bush menyampaikan pidato yang disiarkan langsung tak lama setelah peluncuran rudal dimulai. Dia bersumpah untuk melucuti senjata Irak dan membebaskan rakyat Irak.

Baca Juga

Bush menuduh Saddam Hussein memegang senjata pemusnah massal. Serangan AS ke Irak diperintahkan dua jam setelah batas waktu 48 jam terakhir berakhir bagi Saddam Hussein untuk meninggalkan Irak. Sumber-sumber AS mengatakan lima anggota kunci rezim Irak, termasuk pemimpin Irak itu sendiri, menjadi sasaran dalam serangan pertama.

Irak mengatakan, beberapa sasaran non-militer telah terkena dan sejumlah warga sipil terluka di Doura, pinggiran selatan ibukota. Serangan udara dimulai pada 05.34 waktu setempat. Tidak lama kemudian, TV Irak menyiarkan apa yang dikatakan sebagai pidato langsung oleh Saddam Hussein.

"Saya tidak perlu mengingatkan Anda apa yang harus Anda lakukan untuk membela negara kita. Biarkan orang-orang kafir pergi ke neraka, Anda akan menang, orang Irak," kata Saddam Hussein dilansir laman BBC History, Ahad (20/3/2022).

Presiden Bush awalnya mengecilkan harapan akan kemenangan pertamanya. Dalam siarannya kepada orang-orang Amerika, Bush memperingatkan bahwa kampanye invasi ini bisa lebih lama dan lebih sulit daripada yang diprediksi beberapa orang.

Dia melanjutkan: "Ini tidak akan menjadi kampanye setengah-setengah dan kami tidak akan menerima hasil apa pun selain kemenangan."

"Bahaya bagi negara kami dan dunia akan diatasi. Kami akan melewati masa bahaya ini dan melanjutkan pekerjaan perdamaian. Kami akan mempertahankan kebebasan kami. Kami akan membawa kebebasan

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA