Selasa 01 Mar 2022 20:56 WIB

Mafindo: Publik Perlu Waspadai Maraknya Kasus Phising

Mafindo setiap minggu mendapatkan laporan penipuan.

Phising (Ilusrtrasi).  Mafindo setiap minggu mendapatkan laporan penipuan online, phising.
Foto: Pixabay
Phising (Ilusrtrasi). Mafindo setiap minggu mendapatkan laporan penipuan online, phising.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mendapatkan link hadiah, voucher secara tiba-tiba dari WhatsApp, SMS atau email hati-hati jangan diklik, bisa jadi itu adalah phising, atau penipuan online.  Hal ini diungkap Ketua Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Septiaji Eko Nugroho.

"Kalau terlalu indah menjadi kenyataan, hati-hati. Kita tidak pernah ngapa-ngapain tiba tiba-tiba dapat hadiah," kata dia, dalam keterangan persnya, Ahad (27/2/2022). 

Baca Juga

Dia mengatakan Mafindo setiap minggu mendapatkan laporan penipuan. Septiaji mengatakan laporan tersebut tidak pernah berhenti, masih ada terus setiap minggunya artinya masih banyak korban-korban yang tertipu. Seperti diberitakan, catatnya, Kaspersky mencatat ada 1,6 juta upaya phishing terjadi di Asia Tenggara pada Januari-Juni 2020. Dari jumlah itu, sebanyak 749,9 ribu kasus terjadi di Indonesia.

Phishing merupakan salah satu teknik dari Social Engineering yang banyak digunakan oleh para peretas untuk mengelabui korban. Peretas mengirimkan sebuah tautan dengan judul yang menarik untuk dibuka oleh korban, biasanya berkaitan dengan hadiah, voucher, diskon, dll.

Link tersebut mengarahkan pada diunduhnya program berbahaya. Program ini dapat secara otomatis bekerja di komputer korban dan mencuri kredensial, password, akun, informasi kartu kredit, dan lainnya. "Kalau mendapat SMS atau WhatsApp dari promosi perusahaan, nomornya pasti berbeda bukan nomor biasa," ungkapnya 

Dia melanjutkan bila masyarakat masih penasaran apakah hal tersebut benar atau tidak, bisa dilihat dari website resmi perusahaan atau bisa bertanya melalui akun sosial media mereka sebelum link tersebut di-klik.  Dia menyarankan agar para korban melaporkan, dan berani berbicara. 

Di sisi lain dia melihat bahwa literasi digital masyarakat masih rendah. "Ini merupakan kewajiban kita bersama agar untuk mengedukasi masyarakat," kata dia. 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement