Wednesday, 2 Rabiul Awwal 1444 / 28 September 2022

Macron dan Xi Jinping Sepakat Tingkatkan Upaya Bersama pada Kesepakatan Nuklir 

Kamis 17 Feb 2022 04:26 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Friska Yolandha

Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Foto: AP/Hannibal Hanschke/Pool Reuters
Kesepakatan nuklir hingga kini belum menemukan titik terang yang berarti.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Presiden Cina Xi Jinping sepakat bahwa peningkatan upaya bersama penting untuk mencapai kesepakatan nuklir dengan Iran. Hal ini diungkapkan oleh kantor Presiden Prancis pada Rabu (16/2/2022).

Perundingan kesepakatan nuklir hingga kini belum menemukan titik terang yang berarti. Sebelumnya, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengatakan bahwa kesepakatan nuklir 2015 antara Iran dan negara-negara kekuatan dunia telah menjadi cangkang kosong. 

Baca Juga

Iran dan negara-negara besar dunia saat ini berada di Wina untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir yang telah disepakati mantan presiden Amerika Serikat Donald Trump yang malah keluar dari kesepakatan itu dengan menjatuhkan sanksi yang melumpuhkan ekonomi Iran. Perundingan tidak langsung di Austria antara Iran dan Amerika Serikat dilanjutkan pekan lalu setelah jeda 10 hari. 

Para delegasi mengatakan, perundingan itu telah membuat sedikit kemajuan sejak mereka melanjutkannya pada November setelah jeda lima bulan, yang didorong oleh pemilihan Presiden garis keras Iran Ebrahim Raisi. Dalam kesepakatan yang dikenal Joint Comprehensive Plan of Action itu (JCPOA) itu Iran berjanji menghentikan program nuklirnya. Sebagai gantinya AS harus mencabut sanksi-sanksi ekonomi yang diterapkan pada Teheran.

Perjanjian tersebut membatasi aktivitas nuklir Iran sehingga memperpanjang waktu yang diperlukan untuk memproduksi bahan fisil yang cukup untuk membuat bom nuklir. Jika kesepakatan ini dijalankan setidaknya butuh waktu satu tahun bagi Iran untuk mencapainya bukan dalam dua atau tiga bulan.

Trump menarik AS dari JCPOA pada 2018. Ia kemudian memberlakukan kembali sanksi-sanksi ekonomi yang berimbas pada pemotongan pendapatan dari ekspor minyak yang sangat penting bagi Iran. Iran meresponnya dengan melanggar sejumlah ketentuan dalam kesepakatan. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA