Senin 14 Feb 2022 08:36 WIB

Ukraina Terima Bantuan Sistem Rudal Antipesawat dari Lithuania

Ukraina terima bantuan berupa sistem rudal antipesawat Stinger dari Lithuania.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Esthi Maharani
Bendera Lithuania.
Foto: lithuaniaflag
Bendera Lithuania.

REPUBLIKA.CO.ID, KIEV – Ukraina menerima bantuan militer berupa sistem rudal antipesawat Stinger dari Lithuania. Saat ini Ukraina diketahui tengah terlibat ketegangan dengan Rusia.

“Terima kasih untuk Pemerintah Lithuania, rakyat Lithuania, dan untuk teman baik (saya) Menteri Pertahanan Lithuania Arvydas Anusauskas untuk bantuannya,” kata Menteri Pertahanan Ukraina Oleksii Reznikov saat mengumumkan penerimaan bantuan sistem anti-rudal pesawat Stinger dari Lithuania lewat akun Twitter pribadinya, Ahad (13/2/2022).

Baca Juga

Reznikov mengungkapkan, hubungan Ukraina dan Lithuania sangat dekat dan sudah bertahan selama ratusan tahun. “Saya menghormati hubungan pertemanan lama kami dan kekuatan dukungan satu sama lain,” ucapnya.

Lewat akun Twitter-nya, Reznikov juga mengumumkan penerimaan bantuan amunisi seberat 180 ton dari Amerika Serikat (AS). Menurut dia, sejauh ini negaranya sudah menerima hampir 1.500 ton amunisi dari Washington yang dikirimkan menggunakan 17 penerbangan. “Teman-teman kami tidak pernah tertidur,” ujar Reznikov.

Para pejabat militer Ukraina mengungkapkan, negara tersebut telah secara signifikan memperkuat angkatan bersenjatanya. Bantuan sekutu, berupa sistem anti-tank dari AS dan Inggris serta pesawat nirawak (drone) Turki, berkontribusi dalam melengkapi kesiapan tempur pasukan negara tersebut.

AS mengatakan, Rusia dapat melancarkan serangan ke Ukraina kapan saja. Kendati demikian, Rusia, yang dilaporkan telah mengerahkan lebih dari 100 ribu tentaranya ke perbatasan Ukraina, membantah mempunyai rencana atau intensi untuk menyerang tetangganya tersebut.

AS dan sejumlah negara lainnya seperti Kanada, Selandia Baru, bahkan Yordania, memerintahkan warganya meninggalkan Ukraina. Ketegangan antara Rusia dan Ukraina sudah berlangsung sejak 2014. Kala itu, Moskow mencaplok Semenanjung Krimea. Pertempuran antara kelompok milisi pro-Rusia dan pasukan Ukraina berlangsung di Donbass. Hingga kini ketegangan masih membekap wilayah itu.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement