Senin 14 Feb 2022 06:45 WIB

Presiden Zelenskiy Undang Biden Kunjungi Ukraina

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy mengundang Biden ketika berbicara via telpon

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani
 Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengundang Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden untuk mengunjungi negaranya dalam waktu dekat.
Foto: AP/Eduardo Munoz/Pool Reuters
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengundang Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden untuk mengunjungi negaranya dalam waktu dekat.

REPUBLIKA.CO.ID, KYIV -- Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy mengundang Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden untuk mengunjungi negaranya dalam waktu dekat. Undangan ini disampaikan Zelenskiy ketika berbicara dengan Biden melalui telepon pada Ahad (13/2/2022).

"Saya yakin bahwa kedatangan Anda di Kyiv dalam beberapa hari mendatang sangat penting untuk menstabilkan situasi, serta akan menjadi sinyal yang kuat dan berkontribusi pada de-eskalasi," ujar kantor kepresidenan mengutip perkataan Zelenskiy kepada Biden.

Baca Juga

Gedung Putih menolak mengomentari undangan tersebut. CNN mengutip seorang pejabat Ukraina yang tidak disebutkan namanya mengatakan, tidak ada tanggapan positif dari Biden terhadap undangan itu.

Zelenskiy mengatakan, Ukraina memahami ancaman yang dihadapinya dan siap menghadapi skenario apa pun. Dalam panggilan telepon tersebut, Zelenskiy berterima kasih kepada Amerika Serikat atas dukungannya terhadap Ukraina.

"Kami berharap membantu mencegah penyebaran suasana panik," kata Zelenskiy.

Ribuan warga Ukraina pada Sabtu (12/2/2022) berunjuk rasa di Kyiv untuk menunjukkan persatuan di tengah ketakutan terhadap rencana invasi Rusia. Mereka berbaris melalui pusat kota Kyiv sambil meneriakkan "Kemuliaan bagi Ukraina". Mereka membawa bendera dan spanduk Ukraina dengan tulisan, "Ukraina akan melawan" dan "Penjajah harus mati".

Presiden Zelenskiy menghadiri latihan polisi di wilayah Kherson selatan. Dia mengatakan, serangan Rusia dapat terjadi kapan saja. Menurutnya, semua informasi tentang rencana invasi Rusia hanya memprovokasi kepanikan. Dengan demikian, Zelenskiy mengimbau kepada seluruh warga Ukraina agar tidak panik.

"Saya tidak bisa setuju atau tidak setuju dengan apa yang belum terjadi. Sejauh ini, tidak ada perang skala penuh di Ukraina," kata Zelenskiy.

Zelenskiy menegaskan bahwa, Ukraina telah siap untuk menghadapi berbagai kemungkinan serangan dari Rusia. Persiapan Ukraina menghadapi Rusia telah dibangun sejak 2014. Ketika itu, Rusia mencaplok Krimea dan mendukung kelompok separatis di wilayah timur Ukraina.

"Kami harus siap setiap hari. Itu tidak dimulai kemarin. Ini dimulai pada 2014, jadi, kami siap dan inilah mengapa kami ada di sini," kata Zelenskiy.

Dalam pernyataan terpisah, Kepala Angkatan Bersenjata Ukraina Valery Zaluzhny dan Menteri Pertahanan Oleksii Reznikov mengatakan, invasi tidak akan merebut Kyiv, Odessa, Kharkiv, atau kota Ukraina lainnya. Mereka menegaskan bahwa, pertahanan Ukraina telah diperkuat

"Kami telah memperkuat pertahanan Kyiv. Kami telah melalui perang dan persiapan yang matang. Oleh karena itu, kami siap untuk bertemu musuh," kata Zaluzhny, merujuk  ke berbagai senjata anti-roket dan anti-pesawat yang diterima dari Barat.

Militer mengatakan, intelijen Ukraina dan tentara memiliki kendali atas situasi di perbatasan. Kyiv telah mengoordinasikan tindakannya dengan sekutu.

"Persatuan demokrasi terkemuka seperti itu belum ada selama beberapa dekade," kata Zaluzhny dan Reznikov.

Ketegangan telah meningkat karena Rusia mengerahkan lebih dari 100 ribu tentara di dekat Ukraina dan melakukan latihan skala besar. Amerika Serikat pada Jumat (11/2) mengatakan bahwa, invasi Rusia ke Ukraina dapat dimulai kapan saja. Sementara Rusia membantah berencana untuk menyerang negara tetangganya itu.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement