Thursday, 24 Jumadil Akhir 1443 / 27 January 2022

Thursday, 24 Jumadil Akhir 1443 / 27 January 2022

Angka Stunting di Tangerang Raya Masih di Bawah Ambang WHO

Kamis 02 Dec 2021 07:28 WIB

Rep: Eva Rianti/ Red: Erik Purnama Putra

Petugas mengukur tinggi badan bayi Desa Sukadami, Kecamatan Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Di Desa Sukadami pada 2018, sebanyak 772 balita dilaporkan mengalami stunting.

Petugas mengukur tinggi badan bayi Desa Sukadami, Kecamatan Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Di Desa Sukadami pada 2018, sebanyak 772 balita dilaporkan mengalami stunting.

Foto: Akhmad Nursyeha
Pemkot Tangerang dan Tangsel serta Pemkab Tangerang berupaya menurunkan stunting.

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG -- Angka stunting di wilayah Tangerang Raya meliputi Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), dan Kabupaten Tangerang berada di bawah ambang batas WHO sebesar 20 persen. Meski demikian, pemerintah tetap perlu melakukan intervensi untuk menekan kasus bayi tumbuh kerdil tersebut.

Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang mencatat angka stunting balita di Kota Tangerang sebesar 9,08 persen pada 2021. Angka tersebut berdasarkan data elektronik pencatatan pelaporan gizi berbasis masyarakat (e-PPGBM) Kota Tangerang.

Baca Juga

"Menurut WHO angka tersebut masih di bawah ambang batas masalah kesehatan masyarakat karena masih di bawah 20 persen, jadi masih tergolong rendah. Akan tetapi Pemkot Tangerang tetap terus melakukan upaya pencegahan dan penurunan stunting di Kota Tangerang,” ujar Wakil Wali Kota Tangerang Sachrudin, di Kota Tangerang, Rabu (1/12).

Sachrudin mengatakan, pihaknya melakukan upaya pencegahan dan penurunan angka stunting melalui intervensi secara terintegrasi. Caranya intervensi spesifik yang dilakukan oleh sektor kesehatan maupun sensitif yang dilakukan oleh sektor di luar kesehatan.

Upaya itu diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas sumber daya manusia. "Aksi tersebut salah satunya meliputi peningkatan surveilans gizi dan pemantauan pertumbuhan, peningkatan akses dan mutu paket pelayanan kesehatan dan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan balita dan remaja," ucap Sachrudin.

Sementara di Kota Tangsel, stunting tercatat berada di angka belasan persen. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangsel, Allin Hendalin Mahdaniar menegaskan, angka kasus tumbuh kerdil masih di bawah ambang batas yang ditentukan. "Angka stunting di Tangsel 14 persen ya. Masih jauh di ambang WHO,” kata Alin.

Allin mengatakan, meski bertahan berada di bawah ambang batas WHO, Dinkes Kota Tangsel tetap menggencarkan upaya pencegahan dan penanganan yang berkesinambungan. Salah satunya melakukan kegiatan roadshow ke setiap kelurahan di Tangsel untuk memeriksa data untuk pengambilan kebijakan.

Dia menyebut, Pemkot Tangsel pada 2022 mengadakan program ‘pos gizi’ sebagai upaya edukasi bagi masyarakat mengenai pemenuhan kebutuhan balita. Konsepnya semacam tempat penginapan bagi balita dan orang tua untuk lebih mengenali cara atau upaya mencegah stunting.

“Pos gizi ini mengajak orang tua, kita cari kader yang mau, nanti selama semingguan sampai tiga bulan itu rumahnya ditempatin sama balita-balita yang memang kategori butuh di-support untuk menaikkan berat badan. Nanti dikasih bahan-bahan makanan, kemudian diolah, dan makan bersama," ucap Allin.

Adapun, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang mencatat angka stunting di Kabupaten Tangerang pada tahun ini sebesar 7,6 persen. Angka itu menurun 0,9 persen dari tahun sebelumnya sebesar 8,5 persen.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kabupaten Tangerang Sri Indriyani menuturkan, pihaknya terus memantau status gizi balita di Kabupaten Tangerang melalui aplikasi pencatatan e-PPGBM. Pemantauan tersebut dinilai menjadi salah satu upaya pencegahan hingga penanganan masalah stunting.

"Melalui aplikasi tersebut, kami mendapat data berapa jumlah balita yang bermasalah gizi per wilayah dengan melakukan penimbangan berat badan dan pengukuran panjang atau tinggi badan balita oleh petugas kesehatan di puskesmas setiap bulan Februari dan Agustus," kata Sri.

Menurut Sri, program yang dilakukan, selain intervensi untuk 1.000 hari pertama kehidupan, juga peluncuran program sanitasi, ketahanan pangan, ekonomi, sosial, dan budaya. Dengan begitu, diharapkan masalah stunting bisa diatasi.

"Tidak hanya balita, kami juga berupaya mencegah stunting dalam intervensi dengan memberikan tablet penambah darah pada remaja putri untuk mencegah anemia yang menjadi salah satu penyebab stunting," terangnya.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA