Rabu 17 Nov 2021 08:55 WIB

Ketidakpastian Buat Harga Minyak Global Bervariasi

Ketatnya pasar minyak global akibat permintaan kembali ke level sebelum pandemi.

Harga minyak dunia (ilustrasi). Dibayangi ketidakpastian, harga minyak dunia bergerak variatif.
Foto: REUTERS/Max Rossi
Harga minyak dunia (ilustrasi). Dibayangi ketidakpastian, harga minyak dunia bergerak variatif.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Harga minyak tampak beragam pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), karena prospek persediaan yang ketat di seluruh dunia. Hal itu diimbangi oleh perkiraan peningkatan produksi dalam beberapa bulan mendatang serta kekhawatiran atas meningkatnya kasus virus corona di Eropa.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari menguat 38 sen atau 0,5 persen, menjadi 82,43 dolar AS per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Desember turun 12 sen atau 0,2 persen, menjadi 80,76 dolar AS per barel.

Baca Juga

"Pasar minyak akan tetap ketat dalam jangka pendek, yang seharusnya mendukung harga," kata analis Commerzbank Carsten Fritsch.

Kepala Eksekutif Trafigura Group Jeremy Weir mengatakan, ketatnya pasar minyak global disebabkan permintaan kembali ke tingkat sebelum pandemi. Produksi minyak dari cekungan Permian Texas diperkirakan mencapai rekor 4,953 juta barel per hari (bph) pada Desember.

Stok minyak mentah AS diperkirakan telah meningkat untuk pekan keempat berturut-turut. Para analis dalam jajak pendapat Reuters memperkirakan peningkatan sekitar 1,4 juta barel pekan lalu.

Yang pertama dari dua laporan pasokan pekanan, dari kelompok industri American Petroleum Institute (API), akan dirilis Selasa (16/11) malam. Namun, Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan reli pasar minyak dapat mereda karena harga yang tinggi dapat memberikan insentif yang kuat untuk meningkatkan produksi, terutama di Amerika Serikat.

IEA memperkirakan harga rata-rata Brent berada di sekitar 71,50 dolar AS per barel pada 2021 dan 79,40 dolar AS pada 2022.  Sementara Rosneft mengatakan mungkin mencapai 120 dolar AS pada paruh kedua 2022, menurut kantor berita TASS.

Dihambat Covid-19

Sekretaris Jenderal Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) Mohammad Barkindo memperkirakan surplus minyak pada awal Desember dan pasar akan tetap kelebihan pasokan tahun depan. OPEC pekan lalu memangkas perkiraan permintaan minyak dunia untuk kuartal keempat sebesar 330.000 barel per hari dari perkiraan bulan lalu. Sebab, harga energi yang tinggi menghambat pemulihan ekonomi dari pandemi Covid-19.

Kekhawatiran tentang runtuhnya permintaan minyak juga muncul ketika Eropa kembali menjadi pusat pandemi Covid-19. Peningkatan kasus Covid-19 di Eropa mendorong beberapa pemerintah untuk mempertimbangkan menerapkan kembali pembatasan wilayah. Sementara di sisi lain, China sedang berjuang melawan penyebaran wabah terbesarnya yang disebabkan oleh varian Delta.

Pemerintahan Biden telah mempertimbangkan untuk memanfaatkan stok darurat AS untuk mendinginkan kenaikan harga minyak. Namun, penjabat kepala Badan Informasi Energi AS (EIA) mengatakan pelepasan minyak dari Cadangan Minyak Strategis (SPR) AS kemungkinan hanya akan berdampak singkat pada pasar minyak.

"Pasar terlihat solid secara fundamental dengan pasar fisik yang kuat, tetapi dengan kurangnya short di pasar dan ketakutan SPR, pasar tidak bisa reli," kata Scott Shelton, spesialis energi di United ICAP.

Dolar menyentuh level tertinggi 16 bulan terhadap sekeranjang mata uang setelah data penjualan ritel AS yang kuat. Dolar yang lebih kuat membuat minyak lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

Regulator energi Jerman juga menangguhkan proses persetujuan untuk Nord Stream 2, pipa baru utama yang membawa gas alam Rusia ke Eropa, mendorong patokan harga kontrak bulan depan Belanda melonjak 15 persen. Persentase kenaikan itu merupakan yang tertinggi dalam lebih dari sebulan. Harga bahan bakar yang lebih tinggi meningkatkan permintaan minyak karena pembangkit listrik beralih ke pembakaran minyak mentah, daripada gas alam.

 

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement