Selasa 19 Oct 2021 19:24 WIB

BI Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global Jadi 5,7 Persen

Pemulihan ekonomi global tetap berlanjut tetapi lebih rendah dari perkiraan.

Suasana deretan gedung bertingkat di Jakarta, Jumat (9/7). Menteri Keuangan Sri Mulyani merevisi target pertumbuhan ekonomi pada tahun 2021 menjadi kisaran 3,7 persen sampai 4,5 persen yang turun dari proyeksi awal yaitu 4,3 persen hingga 5,3 persen, karena dampak dari penerapan PPKM Jawa-Bali. Republika/Putra M. Akbar
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Suasana deretan gedung bertingkat di Jakarta, Jumat (9/7). Menteri Keuangan Sri Mulyani merevisi target pertumbuhan ekonomi pada tahun 2021 menjadi kisaran 3,7 persen sampai 4,5 persen yang turun dari proyeksi awal yaitu 4,3 persen hingga 5,3 persen, karena dampak dari penerapan PPKM Jawa-Bali. Republika/Putra M. Akbar

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2021 dari perkiraan sebelumnya sebesar 5,8 persen menjadi 5,7 persen. Penurunan dulakukan karena pemulihan ekonomi dunia yang berlanjut namun lebih rendah dari perkiraan sebelumnya.

"Pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat (AS), China, dan Jepang lebih rendah dari perkiraan sejalan dampak kenaikan kasus varian Delta COVID-19, serta gangguan rantai pasokan dan energi global," ujar Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam Pengumuman Hasil RDG Bulan Oktober 2021 Cakupan Triwulanan di Jakarta, Selasa (19/10).

Baca Juga

Di sisi lain ia menilai pemulihan ekonomi Eropa lebih tinggi sehingga menahan perlambatan ekonomi global. Kinerja sejumlah indikator dini seperti Purchasing Managers' Index (PMI), penjualan eceran, dan keyakinan konsumen secara umum melambat pada September 2021.

Namun, ia menjelaskan, kenaikan volume perdagangan dunia dan harga komoditas terus berlanjut, sehingga menopang prospek ekspor negara berkembang. "Pemulihan ekonomi dunia diperkirakan akan tetap berlanjut pada tahun 2022 meskipun dampak dari gangguan rantai pasokan dan keterbatasan energi perlu tetap diwaspadai," ujar Perry.

Meski begitu, dirinya menuturkan ketidakpastian pasar keuangan global sedikit menurun di tengah kekhawatiran pengetatan kebijakan moneter global yang lebih cepat, sejalan kenaikan inflasi yang terus berlangsung. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap tetap berlanjutnya aliran portofolio global ke negara berkembang, khususnya di negara-negara yang mempunyai imbal hasil aset keuangan yang menarik dan kondisi ekonomi yang membaik.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement