Tuesday, 23 Syawwal 1443 / 24 May 2022

70 Juta Orang Daftar Telegram Selama WhatsApp Gangguan

Rabu 06 Oct 2021 08:57 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Dwi Murdaningsih

 Ilustrasi foto menunjukkan ikon aplikasi aplikasi olah pesan media sosial Telegram yang ditampilkan pada ponsel di Oestrich-Winkel, Jerman, 04 Februari 2021 (dikeluarkan 05 Februari 2021).

Ilustrasi foto menunjukkan ikon aplikasi aplikasi olah pesan media sosial Telegram yang ditampilkan pada ponsel di Oestrich-Winkel, Jerman, 04 Februari 2021 (dikeluarkan 05 Februari 2021).

Foto: EPA-EFE/MATTIA SEDDA
Facebook, WhatsApp dan Instagram mengalami gangguan selama 6 jam pada Senin kemarin.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON—Aplikasi perpesanan Telegram mengatakan telah menambahkan 70 juta pengguna baru selama enam jam penghentian Facebook dan WhatsApp. Pendiri dan kepala eksekutif Telegram Pavel Durov mengumumkan peningkatan besar-besaran dalam hal yang disebutnya “peningkatan rekor dalam pendaftaran dan aktivitas pengguna.”

“Saya bangga dengan bagaimana tim kami menangani pertumbuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya karena Telegram terus bekerja dengan sempurna untuk sebagian besar pengguna kami. Dikatakan, beberapa pengguna di Amerika mungkin mengalami kecepatan lebih lambat dari biasanya karena jutaan pengguna dari benua ini bergegas untuk mendaftar Telegram pada saat yang sama,” kata Durov, dilansir dari Independent, Rabu (6/10).

Baca Juga

Telegram mengumumkan awal tahun ini bahwa mereka telah mencapai 500 juta pengguna bulanan. Signal, yang juga bersaing dengan WhatsApp dan Telegram, mengumumkan bahwa mereka telah menambahkan jutaan pengguna baru selama penghentian Facebook.  

Sebanyak 3,5 miliar pengguna Facebook tidak dapat mengakses produknya, termasuk Instagram dan Messenger. Gangguan ini disebabkan perubahan konfigurasi yang salah yang diumumkan perusahaan.

Telegram dan aplikasi perpesanan lainnya dibanjiri pengguna baru ketika orang-orang bergegas mencari pengganti produk Facebook selama pemadaman.

Wakil Presiden Teknik Facebook Santosh Janardhan menjelaskan dalam posting blog yang diperbarui pada Selasa (5/10), bahwa para insinyur perusahaan mengeluarkan perintah yang secara tidak sengaja memutuskan pusat data Facebook dari seluruh dunia.

Penghentian itu mengatakan penghentian itu menghilangkan alat yang biasanya digunakan para insinyurnya untuk menyelidiki dan memperbaiki pemadaman tersebut. Perusahaan mengirimkan tim insinyur ke lokasi pusat datanya untuk mencoba men-debug dan memulai ulang sistem, tetapi sistem keamanan berarti mereka membutuhkan waktu ekstra untuk secara fisik masuk ke dalam gedung server.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA