Sunday, 7 Rajab 1444 / 29 January 2023

Kebun Binatang Jurug Andalkan Donasi untuk Operasional

Jumat 01 Oct 2021 21:16 WIB

Rep: Binti Sholikah/ Red: Fuji Pratiwi

Kebun binatang Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) Solo menerima donasi untuk konservasi satwa senilai Rp 20 juta dari Solo Expart Association, Jumat (1/10).

Kebun binatang Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) Solo menerima donasi untuk konservasi satwa senilai Rp 20 juta dari Solo Expart Association, Jumat (1/10).

Foto: Republika/binti sholikah
Kebutuhan operasional TSTJ selama sebulan mencapai Rp 330 juta.

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Kebun binatang Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) atau Jurug Solo Zoo masih sepi pengunjung sejak dibuka dua pekan lalu. Manajemen masih mengandalkan bantuan dari Pemerintah Kota (Pemkot) maupun donasi dari berbagai pihak.

Direktur TSTJ, Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso, mengatakan, TSTJ menjadi percontohan dari 20 destinasi wisata uji coba kode QR Peduli Lindungi. TSTJ dibuka kembali pada 15 September setelah Kota Solo turun ke level 3 pada penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Sesuai Surat Edaran (SE) Wali Kota Solo tentang PPKM Level 3, pengunjung kawasan wisata dibatasi usianya di atas 12 tahun.

Baca Juga

"Batasan usia sesuai anjuran SE Wali Kota 12 tahun ke atas, ini pengunjugnya masih sepi. Belajar dari tahun kemarin batasan usia 15 tahun ke atas juga masih sepi," kata Bimo kepada wartawan, Jumat (1/10).

Bimo menyadari, batasan usia tersebut juga menjadi keputusan pemerintah pusat. Sehingga, TSTJ selalu menghormati apa yang menjadi keputusan pemerintah pusat maupun daerah.

"Harapannya Solo segera turun level, normal kembali dengan protokol kesehatan. Peduli Lindungi juga tersosialiasi dengan baik kepada masyarakat," imbuhnya.

Selama ini, TSTJ mendapat bantuan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Solo untuk operasional. Bulan ini, TSTJ mendapatkan hibah dari Pemkot senilai Rp 195,5 juta untuk pakan satwa dan honor pegawai konservasi.

Bimo mengungkapkan, total kebutuhan operasional TSTJ selama sebulan mencapai Rp 330 juta. Dari jumlah itu, kebutuhan untuk pakan satwa dan honor pegawai konservasi sekitar Rp 195 juta.

"Moga-moga bulan depan juga ada bantuan dari Pemkot. Atau kalau sudah normal dan pengunjung banyak tidak perlu dibantu lagi. Kalau bisa 15 ribu pengunjung per bulan kami bisa impas," ungkap Bimo.

Selain itu, bantuan juga berdatangan dari pihak lain, seperti Yayasan Filantra dari Jawa Barat membantu Rp 35 juta, maupun bantuan dari Perhimpunan Kebun Binatang se-Indonesia (PKBSI). Bahkan, ada juga batuan insidental dari warga atau relawan yang memberikan uang tunai Rp 1 juta maupun pakan satwa.

Pada Jumat, TSTJ menerima donasi dari Solo Expart Association senilai Rp 20 juta. Bantuan tersebut diserahkan perwakilan para ekspatriat di Solo kepada Bimo di halaman TSTJ.

"Mereka membantu kami Rp 20 juta untuk operasional TSTJ. Kami berterima kasih atas bantuan dari para ekspatriat di Solo Raya. Kami akan gunakan untuk operasional TSTJ," jelas Bimo.

Sementara itu, Vice President Solo Expart Association, Don Cameron, mengatakan, donasi yang terkumpul senilai Rp 20 juta disalurkan kepada TSTJ untuk konservasi satwa. Donasi tersebut dikumpulkan melalui laman donasi kitabisa.com kemudian dikelola oleh asosiasi ekspatriat di Solo.

"Tujuannya untuk konservasi satwa di Taman Satwa Taru Jurug. Sebelumnya kami telah melakukan donasi di kota lain seperti Yogyakarta," kata Don.

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA