Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Perpanjangan PPKM dan Penurunan Kasus Covid-19 yang Semu

Selasa 03 Aug 2021 18:11 WIB

Red: Indira Rezkisari

 Pemandangan lalu lintas jalan selama pembatasan COVID-19 di Jakarta, Selasa (3/8/2021). Pemerintah memperpanjang pembatasan kegiatan masyarakat darurat (PPKM) Level 4 hingga 09 Agustus 2021.

Pemandangan lalu lintas jalan selama pembatasan COVID-19 di Jakarta, Selasa (3/8/2021). Pemerintah memperpanjang pembatasan kegiatan masyarakat darurat (PPKM) Level 4 hingga 09 Agustus 2021.

Foto: EPA-EFE/Bagus Indahono
Meningkatkan 3T jadi keharusan tekan kasus Covid-19 seminim mungkin.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Rr Laeny Sulistyawati, Rizky Suryarandika, Intan Pratiwi

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) terus berlanjut meski kasus harian Covid-19 sudah menurun. Pada hari ini, tercatat penambahan kasus Covid-19 di angka 33.900. Penambahan kasus di bawah 50 ribu sudah konsisten terjadi sejak beberapa hari terakhir.

Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, namun menilai penurunan kasus Covid-19 di Tanah Air semu. Kasus menurun karena rendahnya pemeriksaan (testing) yang dilakukan pemerintah.

"Banyak masyarakat yang harus tes sendiri. Ini bagaimana kita bisa yakin dengan kasus yang menurun di daerah wong testingnya tidak memadai karena dibebankan pada masyarakat," katanya, saat dihubungi Republika, Selasa (3/8).

Bahkan, dia melanjutkan, kalau bicara testing dan pernah terungkap kasus harian di atas 50 ribuan beberapa waktu lalu, seharusnya pemerintah melakukan 1 juta tes dalam tempo tiga kali 24 jam. Tujuannya untuk merespons kasus harian yang tembus di atas 50 ribu.
Kalaupun tidak mampu, menurutnya seharusnya kemampuan pengetesan minimal sekitar 500 ribuan per hari. Ia menjelaskan, seharusnya dalam satu kasus positif ada 30 kontak erat yang dilacak dan dites. Namun, ia menyayangkan pemerintah Indonesia tidak bisa mengambil batas minimal testing.

"Jadi, kasus harian yang terlihat rendah berbahaya dan semu di tengah positivity rate tinggi," ujarnya.

Artinya, Dicky menilai pandemi Covid-19 di Indonesia masih tidak terkendali. Menurutnya, kondisi ini berbahaya kalau tidak segera diperbaiki karena angka kematian yang tinggi.

Bahkan, Dicky memperkirakan pada pertengahan Agustus mendatang adalah puncak kasus Covid-19 di tengah minimnya testing. Artinya beban fasilitas kesehatan (faskes) dalam beberapa hari ke depan akan terlihat meningkat.

Keputusan pemerintah yang memperpanjang PPKM Level 4 hingga 9 Agustus 2021 harus dijalani dengan memperkuat temukan kasus infeksi. "Ini harus jadi paradigma baru karena menemukan virus jadi cara untuk memenangkan perang di pandemi. Kalau tidak ditemukan (kasus positif), bagaimana bisa menang," ujarnya.

Ia menambahkan masalah lain, yaitu sudah banyak klaster yang muncul namun belum tuntas. Dicky meminta pemerintah agresif dan aktif melakukan tes, minimal tes antigen.

Kalau upaya tes, lacak, dan isolasi (3T) ini tidak dilakukan maksimal, Dicky khawatir jumlah meninggal akibat Covid-19 terus tinggi. Ia mewanti- wanti jangan sampai pemerintah terjebak pada pembatasan berulang tetapi melupakan upaya 3T, protokol kesehatan, dan vaksinasi.

"Semua upaya ini akan membuat kita terhindar dari masuk dalam kelompok negara yang terakhir keluar dari pandemi kalau dilakukan dengan berkomitmen tinggi dan konsisten," ujarnya.

photo
Ilustrasi PPKM Level 4 - (republika)





Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA