Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Bolehkah Menggabungkan Berbagai Merek Vaksin Covid-19?

Jumat 18 Jun 2021 00:05 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Nora Azizah

Muncul pertanyaan, bisakah berbagai jenama vaksin Covid-19 digabungkan pemakaiannya pada pasien?

Muncul pertanyaan, bisakah berbagai jenama vaksin Covid-19 digabungkan pemakaiannya pada pasien?

Foto: EPA-EFE/BAGUS INDAHONO
Para ilmuwan di Universitas Oxford, Inggris, mencoba mencari jawabannya.

REPUBLIKA.CO.ID, OXFORD -- Ada sejumlah merek vaksin Covid-19 yang beredar dan telah diberikan kepada masyarakat global. Muncul pertanyaan, bisakah berbagai jenama vaksin itu digabungkan pemakaiannya pada pasien?

Para ilmuwan di Universitas Oxford, Inggris, mencoba mencari jawabannya. Mereka menguji kombinasi dua dosis vaksin Covid-19 yang dibuat oleh AstraZeneca, Moderna, Novavax, dan Pfizer-BioNTech. 

Uji coba yang lebih kecil juga sedang berlangsung di Spanyol dan Jerman. Pantauan awal dari tim peneliti, kemungkinan kombinasi aman dan efektif, tetapi mereka masih mengumpulkan data untuk memastikannya.

Direktur unit vaksin Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Kate O'Brien, menjelaskan bahwa seluruh vaksinasi Covid-19 dirancang untuk merangsang sistem kekebalan. Tujuannya untuk menghasilkan antibodi penangkal virus, meski caranya bervariasi.

"Berdasarkan prinsip-prinsip dasar bagaimana vaksin bekerja, kami berpikir bahwa rejimen mix-and-match akan berhasil. Kami hanya perlu mendapatkan bukti setiap kombinasi (vaksin)," kata O'Brien, dikutip dari AP, Kamis (17/6).

Sejauh ini, data terbatas menunjukkan bahwa suntikan vaksin AstraZeneca yang dilanjutkan dosis selanjutnya menggunakan Pfizer aman dan efektif. Akan tetapi, efek samping sementara seperti nyeri dan kedinginan sedikit lebih tinggi.

Lawrence Young, ahli virus dari University of Warwick, Inggris, menduga penyebab dari kondisi tersebut. Kemungkinan, itu karena mencampur dan mencocokkan berbagai jenis vaksin menghasilkan respons kekebalan yang lebih kuat.

Pejabat kesehatan di sejumlah negara telah menyarankan pencampuran vaksin dalam keadaan tertentu. Terutama, setelah vaksin AstraZeneca dikaitkan dengan efek samping berupa kasus pembekuan darah yang sangat langka.

Banyak negara Eropa termasuk Jerman, Prancis, dan Spanyol merekomendasikan pasien untuk menerima AstraZeneca pada dosis pertama saja. Selanjutnya, mereka dianjurkan mendapatkan suntikan dosis kedua Pfizer atau Moderna.

Berbeda dengan Inggris dan Kanada yang menyarankan agar sebisa mungkin pasien mendapat merek vaksin yang sama untuk dosis pertama dan kedua. Akan tetapi, saran itu diminta jika benar-benar memungkinkan. 

Apabila pasien mendapat vaksin AstraZeneca pada dosis pertama, mereka akan disarankan untuk mendapatkan vaksin lain di dosis kedua dengan catatan tertentu. Perubahan merek vaksin hanya jika pasien memiliki riwayat pembekuan darah atau kondisi lain yang mungkin menempatkan mereka pada risiko pembekuan darah yang lebih tinggi.­

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA