Tuesday, 21 Safar 1443 / 28 September 2021

Tuesday, 21 Safar 1443 / 28 September 2021

Melindungi Lansia dari Ancaman Gelombang Ketiga Covid-19

Rabu 16 Jun 2021 07:08 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Nora Azizah

Populasi lansia kian terancam memasuki gelombang ketiga Covid-19.

Populasi lansia kian terancam memasuki gelombang ketiga Covid-19.

Foto: Pixnio
Populasi lansia kian terancam memasuki gelombang ketiga Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI -- Gelombang kedua pandemi Covid-19 sangat mendampak India. Virus SARS-CoV-2 yang masih mewabah itu ditambah lagi dengan prediksi berlangsungnya gelombang ketiga yang sudah dekat dan bakal mengancam populasi rentan seperti kalangan lanjut usia (lansia).

Para ahli memperkirakan bahwa gelombang ketiga terutama akan memengaruhi anak-anak, tetapi lansia pun selalu rentan terhadap Covid-19. Dokter konsultan India, Shilpi Kulshreshtha, mengingatkan pentingnya tindakan pencegahan yang memadai untuk perlindungan mereka.

Baca Juga

Usia adalah salah satu faktor terbesar dalam kemungkinan penyakit Covid-19, tidak berbeda dengan pandemi yang kini terjadi sejak mewabah. Penting juga untuk memahami risiko cukup tinggi bahwa anak-anak menjadi pihak yang menulari lansia di sekitar mereka.

Kulshreshtha menyarankan penerapan semua tindakan pencegahan dan protokol yang diperlukan di rumah. Lansia yang belum divaksinasi harus segera melakukannya, karena sejauh ini vaksin merupakan salah satu cara terbaik untuk melindungi diri dari virus.

"Sangat penting melakukan semua tindakan pencegahan yang diperlukan ketika pergi untuk vaksinasi, seperti mengenakan alat pelindung keselamatan yang sesuai dan sudah dites negatif corona," ujar perempuan yang mengkhususkan diri dalam perawatan lansia itu.

Sang dokter menyampaikan, protokol keselamatan sebenarnya sangat mudah, sesederhana cuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak. Namun, disiplin melakukannya dengan benar dan terus-menerus dapat menjadi tantangan, serta tidak tergoda melonggarkan protokol.

Keluarga yang tinggal bersama lansia perlu mempertahankan disiplin itu. Dengarkan para ahli medis tentang protokol dan tindakan pencegahan, alih-alih rekomendasi dari tetangga atau grup WhatsApp. Hal lain yang tidak kalah penting adalah kesejahteraan mental.

Walaupun ada jarak secara fisik, Kulshreshtha mengatakan diri dan pikiran lansia perlu tetap terlibat dalam berbagai aktivitas kebersamaan. Itu berguna untuk menjaga kondisi mental dan relasi sosialnya, bahkan meningkatkan kualitas hidup selama periode isolasi.

Banyak lansia yang terbiasa mengikuti kegiatan komunitas menjadi terhambat selama pandemi. Lansia akan butuh bantuan dari anggota keluarga mereka untuk tetap melakukannya dengan aman, misalnya ikut acara daring atau datang ke kegiatan yang menerapkan protokol ketat.

Bagi mereka yang memiliki kemampuan finansial, memindahkan lansia ke tempat yang lebih aman seperti rumah alternatif atau panti jompo mungkin merupakan pilihan yang paling bijaksana. Akan tetapi, kepindahan ke rumah perawatan juga harus dengan persetujuan lansia.

Anjuran dari Kulshreshtha, pilih rumah perawatan dengan fasilitas pengaman yang ketat. Bisa juga mencari tempat yang memberikan perawatan dan dukungan langsung di rumah sehingga lansia tidak memerlukan perjalanan ke luar rumah dan tetap bisa berjumpa anggota keluarga.

Semua upaya tadi merupakan tindakan individu, tetapi tidak sepenuhnya bisa 100 persen efektif. Dalam pandangan Kulshreshtha, hanya respons kebijakan nasional dari pemerintah yang akan mampu sepenuhnya melindungi lansia dan populasi pada umumnya.

"Masalah akibat gelombang kedua telah menunjukkan perlunya mempersiapkan gelombang ketiga dengan menopang sistem perawatan kesehatan dengan lebih banyak obat-obatan, oksigen, dan vaksin," kata kepala layanan klinis di perusahaan Max Group itu, dikutip dari laman The Quint, Rabu (16/6).

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA