Monday, 23 Zulhijjah 1442 / 02 August 2021

Monday, 23 Zulhijjah 1442 / 02 August 2021

Lebaran Hanya Momen, tak Disiplin Jadi Sebab Kasus Melonjak

Ahad 13 Jun 2021 16:05 WIB

Rep: Uji Sukma Medianti/ Red: Dwi Murdaningsih

Petugas kesehatan melakukan tes usap PCR COVID-19 kepada warga Perumahan Bumi Anggrek, Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (7/6/2021). Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi melakukan tes usap PCR dan antigen kepada 135 warga perumahan tersebut menyusul 12 orang penghuninya terkonfirmasi positif COVID-19.

Petugas kesehatan melakukan tes usap PCR COVID-19 kepada warga Perumahan Bumi Anggrek, Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (7/6/2021). Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi melakukan tes usap PCR dan antigen kepada 135 warga perumahan tersebut menyusul 12 orang penghuninya terkonfirmasi positif COVID-19.

Foto: Antara/Fakhri Hermansyah
Aktivitas masyarakat berbanding terbalik dengan kedisiplinan protokol kesehatan.

REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI -- Kenaikan jumlah kasus Covid-19 di Kota Bekasi semakin terlihat. Ketua Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) Kota Bekasi, dr Eko Nugroho, tak ingin lagi mengaitkannya dengan hari raya Idul Fitri 1442 Hijriyah yang sudah berlalu satu bulan lebih.

Menurutnya, kenaikan kasus terjadi lantaran aktivitas masyarakat yang berbanding terbalik dengan tingkat kedisiplinan terhadap protokol kesehatan. "Tidak hanya lebaran, tapi juga dipengaruhi aktivitas masyarakat yang sudah semakin aktif namun semakin pasif dan kendor dalam menerapkan prokes," ujar dr Eko saat dihubungi Republika.co.id, Ahad (13/6).

Baca Juga

Dia mencontohkan, saat ini kegiatan di sektor formal seperti di pusat perbelanjaan, mall sudah mulai kendor protokol kesehatannya. Hal ini berbanding lurus dengan kegiatan di sektor informal.

"Kita bisa liat di pusat perbelanjaan mall, dulu mall sepi dan tertib dalam menerapkan prokes, sekarang akhir pekan mall sudah ramai. Apalagi di pasar, penjaja makanan pinggir jalan, penjaga warung, masyarakat di pinggiran kota," ujar dia.

Lebih jauh, kata Eko, faktor lebaran tak dapat dijadikan lagi sebagai kambing hitam naiknya kasus. Kedisiplinan masyarakat juga tak kalah penting dalam menyumbang risiko penyebaran.

"Lebaran adalah momen. Aktivitasnya mirip mirip, dengan momen lainnya. Cuma memang momen lebaran terjadi dalam skala besar. Faktor utamanya adalah aktivitas rutin harian tadi," ucap dia.

Adapun, pada Ahad (13/6), keterisian tempat tidur isolasi di RS swasta Kota Bekasi sudah terisi 53 persen dari 1.286 tempat tidur.

Eko menjelaskan, kapasitas itu terisi hanya ruang rawat inap isolasi saja belum termasuk Intensive Care Unit (ICU). Seluruh ruang ICU yang terpakai ada 61 unit dari total 110 unit.

Sejatinya, kenaikan jumlah kasus ini sudah terprediksi. Dikatakan Eko, jika dilihat dari okupansi fasilitas isolasi yang ada. Saat ini jumlah kasus meningkat dari rata-rata di bawah 30 persen pada dua bulan lalu.

"Kenaikan ini sudah terprediksi dan terantisipasi sebenarnya. Namun kan kita tetap berharap tidak akan bertambah lagi ke depannya," ujar Eko.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA