Tuesday, 23 Syawwal 1443 / 24 May 2022

Intelijen AS Ungkap Fakta Baru Awal Pandemi Covid di China

Senin 24 May 2021 08:31 WIB

Rep: Kamran Dikarma/Fergi/ Red: Teguh Firmansyah

Ilustrasi virus corona.

Ilustrasi virus corona.

Foto: Pixabay
Tiga peneliti insititut virologi Wuhan disebut cari perawatan ke RS sebelum pandemi.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Fakta baru terkait awal mula pandemi Covid-19 terungkap. Tiga peneliti Inistitut Virologi Wuhan dilaporkan mencari perawatan ke rumah sakit pada November 2019, sebulan sebelum China mendeteksi kasus awal Covid-19.

Kabar itu dipublikasikan Wall Street Journal pada Ahad (23/5), mengutip laporan intelijen Amerika Serikat (AS) yang sebelumnya dirahasiakan.

Baca Juga

Menurut Wall Street Journal, informasi tersebut dapat menegaskan seruan penyelidikan lebih luas tentang dugaan apakah virus Corona penyebab Covid-19 muncul akibat kebocoroan laboratorium. Laporan Wall Street Journal muncul saat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggelar pertemuan yang diperkirakan turut membahas tahap investigasi selanjutnya terkait asal-usul Covid-19.

Seorang juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS enggan menanggapi laporan Wall Street Journal. Namun dia mengatakan pemerintahan Presiden Joe Biden masih mempertanyakan tentang fase-fase awal pandemi, termasuk asal-usul Covid-19.

Dia mengatakan AS sedang bekerja dengan WHO dan negara-negara anggota lainnya untuk mendukung evaluasi berbasis ahli tentang asal-usul pandemic yang bebas dari campur tangan atau politisasi. "Kami tidak akan membuat pernyataan yang merugikan studi WHO yang sedang berlangsung ke dalam sumber SARS-CoV-2, tetapi kami sudah jelas bahwa teori yang masuk akal dan secara teknis dapat dipercaya harus dievaluasi secara menyeluruh oleh para ahli internasional," katanya.

Pada Ahad lalu, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) China menegaskan, hasil penyelidikan WHO ke Wuhan pada Februari lalu menyimpulkan bahwa kebocoran laboratorium sangat tidak mungkin terjadi. "AS terus menggembar-gemborkan teori kebocoran laboratorium. Apakah ia benar-benar peduli tentang melacak sumber atau mencoba mengalihkan perhatian?” kata Kemlu Cina menanggapi permintaan komentar dari Wall Street Journal.

Pada Maret lalu, WHO merilis hasil penyelidikan tentang asal-usul Covid-19 yang dilakukan bersama para ahli dari China. Mereka menjelaskan skenario paling mungkin terkait rantai penyebaran adalah virus dibawa kelelawar, kemudian ditularkan ke manusia lewat hewan lain. Tim mengusulkan penelitian lebih lanjut di setiap area, kecuali hipotesis kebocoran laboratorium.

Namun Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus meminta tim yang menyelidiki asal-usul pandemi Covid-19 tetap mendalami kemungkinan kebocoran laboratorium sebagai penyebab menyebarnya virus. “Meskipun tim telah menyimpulkan bahwa kebocoran laboratorium adalah hipotesis yang paling kecil kemungkinannya, hal ini memerlukan penyelidikan lebih lanjut, berpotensi dengan misi tambahan yang melibatkan ahli spesialis, yang siap saya kerahkan,” kata Ghebreyesus pada 30 Maret  lalu.

Tim WHO  diutus menyelidiki asal-usul Covid-19 tiba di Wuhan, Cina, pada 14 Januari lalu. Sebelum melakukan misinya, mereka menjalani isolasi terlebih dulu selama dua pekan. Terdapat beberapa tempat yang dikunjungi tim WHO selama proses penyelidikan.

Pertama adalah rumah sakit Wuhan yang paling awal menangani pasien Covid-19. Mereka juga menyambangi pasar tradisional Huanan, tempat yang diduga kuat menjadi rantai awal penularan Covid-19.

Selain itu, tim WHO turut mengunjungi Institut Virologi Wuhan. Seperti diketahui, sempat beredar teori bahwa Covid-19 disebabkan oleh kebocoran virus dari laboratorium di institut tersebut. Namun Cina telah membantah hal itu.

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA