Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

IHSG Melemah di Awal Pekan Tertekan Sentimen Eksternal

Senin 03 May 2021 10:05 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Friska Yolandha

Pekerja melintas dengan latar belakang layar pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (30/4/2021). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Senin (3/5) terkoreksi 0,44 persen ke level 5.969,41 setelah dibuka naik ke zona hijau.

Pekerja melintas dengan latar belakang layar pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (30/4/2021). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Senin (3/5) terkoreksi 0,44 persen ke level 5.969,41 setelah dibuka naik ke zona hijau.

Foto: Antara/Galih Pradipta
IHSG terkoreksi 0,44 persen ke level 5.969,41 setelah dibuka naik ke zona hijau.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di zona negatif pada perdagangan pagi ini, Senin (3/5). IHSG terkoreksi 0,44 persen ke level 5.969,41 setelah dibuka naik ke zona hijau. 

Phillip Sekuritas Indonesia memperkirakan IHSG akan cenderung melemah sepanjang perdagangan hari ini. Hal tersebut sejalan dengan pergerakan indeks saham Asia yang dibuka datar pagi ini. 

Baca Juga

"Volatilitas pasar minggu ini diprediksi akan lebih tinggi karena investsor mengantisipasi putaran terkini dari musim laporan keuangan di Amerika Serikat (AS) yang cukup padat," tulis Phillip Sekuritas Indonesia dalam risetnya, Senin (3/5). 

Untuk hari ini, menurur riset, investor menantikan rilis sejumlah data Manufacturing PMI dari kawasan Asia. Data tersebut akan memperlihatkan perkembangan kinerja sektor manufaktur Asia di tengah perbaikan permintaan global.

Rilis data ekonomi AS minggu ini juga berpotensi menjadi sentimen penggreak pasar, terutama data ISM Manufacturing Index dan Non-Farm Payrolls (NFP). Ekonomi AS di prediksi akan menambah 978 ribu lapangan kerja baru selama bulan April, terbesar sejak Agustus 2020 dan leboh tinggi dai penambahan 916 ribu di bulan Maret. 

Gubernur the Fed Jerome Powell sempat mengatakan butuh waktu beberapa bulan untuk menambah satu juta lapangan kerja untuk mencapai kemajuan yang dapat memicu pengurangan (tapering) program Quantitaive Easing (QE).

Selain itu, sentimen investor juga tertekan oleh perkembangan krisis Covid-19 di India yang melaporkan rekor jumlah kasus hingga 401.993 pada Sabtu lalu. Ini adalah untuk pertama kali jumlah kasus baru harian di India menembus angka 400 ribu setelah 10 hari beruntun mencatatkan jumlah kasus baru lebih dari 300 ribu. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA