Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

Petugas Kepolisian di Capitol Meninggal karena Sebab Alami

Selasa 20 Apr 2021 07:41 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Teguh Firmansyah

Dalam foto file 6 Januari 2021 ini, dua pria berdiri bersenjata di depan Rumah Gubernur di Olympia, Washington, selama protes mendukung Presiden Donald Trump dan menentang penghitungan suara elektoral di Washington, DC, menegaskan Kemenangan Presiden terpilih Joe Biden. Setelah siklus pemilu 2020 yang didominasi oleh teori konspirasi dan klaim palsu tentang pemungutan suara, pejabat tinggi pemilu di seluruh negeri menanti pemilu di masa depan dan bergulat dengan bagaimana mereka dapat melawan gelombang informasi yang salah yang menyebabkan ancaman kekerasan terhadap mereka dan akhirnya kerusuhan yang mematikan. di Capitol.

Dalam foto file 6 Januari 2021 ini, dua pria berdiri bersenjata di depan Rumah Gubernur di Olympia, Washington, selama protes mendukung Presiden Donald Trump dan menentang penghitungan suara elektoral di Washington, DC, menegaskan Kemenangan Presiden terpilih Joe Biden. Setelah siklus pemilu 2020 yang didominasi oleh teori konspirasi dan klaim palsu tentang pemungutan suara, pejabat tinggi pemilu di seluruh negeri menanti pemilu di masa depan dan bergulat dengan bagaimana mereka dapat melawan gelombang informasi yang salah yang menyebabkan ancaman kekerasan terhadap mereka dan akhirnya kerusuhan yang mematikan. di Capitol.

Foto: AP/Ted S. Warren
Hasil pemeriksaan medis menunjukkan Brian Sicknick meninggal karena stroke.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Seorang petugas kepolisian di gedung Capitol, Ibu Kota Washington, Amerika Serikat (AS) bernama Brian Sicknick, yang meninggal saat terjadinya kerusuhan pada 6 Januari lalu dipastikan kehilangan nyawa karena sebab-sebab alami.  Hal tersebut diumumkan oleh kantor pemeriksaan medis pada Senin (19/4).

Sebelumnya, dua pria bernama George Tanios dan Julian Khater didakwa melakukan penyerangan terhadap Sicknick. Sementara petugas lain mencoba menghentikan tindakan itu dengan menyemprotkan cairan kimia sebagai senjata keamanan.

Penyidik pada awalnya meyakini bahwa Sicknick telah dipukul di bagian kepala dengan alat pemadam api. Hal ini disimpulkan berdasarkan keterangan dari sejumlah saksi di awal penyelidikan.

Seiring penyelidikan yang terus berjalan, Sicknick diyakini meninggal karena menelan zat kimia yang disemprotkan untuk mencegah serangan dari para demonstran di Capitol. Namun, putusan akhir berdasar pemeriksaan medis yang dilakukan secara menyeluruh menemukan bahwa pria berusia 42 tahun itu mengalami stroke.

Keputusan itu menyimpulkan kondisi medis Sicknick adalah penyebab kematiannya, bukan akibat cedera. Dengan demikian, hal ini akan membuat jaksa federal mungkin tidak dapat melanjutkan tuntutan atas dugaan kasus pembunuhan terhadap petugas polisi ini.

Sicknick termasuk di antara lima orang yang meninggal beberapa saat setelah atau selama kerusuhan. Demonstran dalam jumlah besar menyerbu Capitol saat Kongres AS tengah melakukan pemungutan suara untuk mengesahkan kemenangan Joe Biden dalam pemilihan presiden November 2020.

Saat itu, mantan presiden AS Donald Trump mendesak para pendukungnya untuk berjuang sekuat tenaga membalikkan kekalahannya. Sebelumnya, ia membuat klaim bahwa telah terjadi kecurangan dalam pemillu di Negeri Paman Sam pada tahun lalu, meski bukti-bukti yang ada tidak cukup menunjukkan tindakan ini terjadi.



BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA