Sunday, 4 Syawwal 1442 / 16 May 2021

Sunday, 4 Syawwal 1442 / 16 May 2021

Biden: Pengayaan Uranium 60 Persen Iran tak Membantu

Sabtu 17 Apr 2021 15:27 WIB

Red: Teguh Firmansyah

 Foto satelit dari Planet Labs Inc. menunjukkan fasilitas nuklir Natanz Iran pada hari Rabu, 14 April 2021.

Foto satelit dari Planet Labs Inc. menunjukkan fasilitas nuklir Natanz Iran pada hari Rabu, 14 April 2021.

Foto: ap/Planet Labs Inc.
Para ilmuwan disebut telah melakukan pengayaan uranium hingga 60 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden AS Joe Biden pada Jumat (16/4) mengatakan pengayaan uranium Iran hingga 60 persen tidak membantu dalam perdamaian. Namun dia senang Teheran masih berbicara tidak langsung dengan Washington untuk melanjutkan kepatuhan pada kesepakatan nuklir Iran 2015.

Iran pada Jumat mengatakan telah mulai memperkaya uranium hingga 60 persen, level tertinggi yang pernah ada dan selangkah lebih dekat ke 90 persen yaitu tingkat senjata, di pabrik Natanz, tempat ledakan terjadi awal pekan ini. Teheran menyalahkan Israel atas ledakan itu.

"Kami tidak mendukung dan sama sekali tidak membantu bahwa Iran mengatakan akan meningkatkan pengayaan menjadi 60 persen," kata Biden kepada wartawan di Washington selama konferensi pers bersama dengan Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga.

Baca Juga

"Kami, bagaimanapun, tetap senang bahwa Iran terus setuju untuk terlibat dalam diskusi - diskusi tidak langsung - dengan kami dan dengan mitra kami tentang bagaimana kami bergerak maju dan apa yang diperlukan untuk memungkinkan kami kembali ke (kesepakatan nuklir). .. tanpa kami membuat konsesi yang kami tidak ingin buat," tambah Biden.

Iran dalam beberapa bulan terakhir telah meningkatkan pengayaan menjadi kemurnian 20 persen, tingkat saat uranium dianggap sangat diperkaya dan merupakan langkah signifikan menuju tingkat pembuatan senjata. Kesepakatan 2015 dengan negara-negara besar dunia untuk mengendalikan ambisi nuklir Iran dengan imbalan pencabutan sanksi telah membatasi tingkat kemurnian di 3,67 persen. Iran membantah mencari senjata nuklir.

"Kami memproduksi sekitar 9 gram 60 persen uranium yang diperkaya per jam," kata Ali Akbar Salehi, kepala Organisasi Energi Atom Iran, kepada televisi pemerintah."Tapi kita harus mengerjakan pengaturan ... untuk menurunkannya menjadi 5 gram per jam. Tapi kemudian kita akan secara bersamaan memproduksi 20 persen (uranium)," kata Salehi.

Sebelumnya, ketua parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf mengatakan para ilmuwan Iran telah berhasil mulai memperkaya 60 persen uranium pada 40 menit lewat tengah malam."Keinginan bangsa Iran membuat keajaiban yang menggagalkan konspirasi apa pun," tulis Qalibaf di Twitter.

Di Wina, juru bicara pengawas nuklir PBB IAEA menolak mengomentari pernyataan Iran tentang pengayaan 60 persen. Ditanya apakah langkah Iran adalah tanda bahwa Teheran tidak serius untuk kembali ke kesepakatan nuklir, Biden menjawab, "Diskusi sedang berlangsung. Saya pikir terlalu dini untuk membuat penilaian seperti apa hasilnya nanti. Tapi kita masih berbicara."

Iran dan kekuatan global bertemu di Wina untuk mencoba menyelamatkan kesepakatan nuklir 2015 yang ditinggalkan oleh mantan Presiden AS Donald Trump tiga tahun lalu - upaya yang berpotensi dipersulit oleh keputusan Teheran untuk meningkatkan pengayaan uranium.

"Kami memiliki keputusan (Iran) ini untuk melakukan pengayaan 60%. Jelas ini tidak membuat negosiasi lebih mudah," kata pejabat Uni Eropa kepada wartawan.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA