Friday, 2 Zulhijjah 1443 / 01 July 2022

Biden Mengaku Penembakan Massal Permalukan AS

Sabtu 17 Apr 2021 12:14 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Indira Rezkisari

 Presiden AS Joe Biden.

Presiden AS Joe Biden.

Foto: EPA-EFE/Andrew Harrer
Biden mengatakan Kongres harus larang senjata gaya militer dan magasin amunisi besar.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, mengaku rentetan kejadian penembakan massal di negara itu adalah hal memalukan. Dia menghadapi tekanan yang meningkat untuk membendung kekerasan senjata dengan mengubah undang-undang senjata api permisif.

"Ini harus diakhiri. Ini memalukan secara nasional," kata Biden pada konferensi pers Gedung Putih bersama Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga, dikutip dari Aljazirah, Sabtu (17/4).

Baca Juga

Biden mengatakan Kongres harus melarang senjata serbu gaya militer dan magasin amunisi berkapasitas besar. Biden membuat larangan serupa di Senat AS yang berakhir pada 2004. Juru bicara Gedung Putih, Jen Psaki, sehari sebelumnya mengatakan bahwa Kongres juga harus mengizinkan para korban untuk menuntut produsen senjata.

Isu tentang pelarangan senjata ini terjadi setelah seorang penyerang menewaskan delapan orang dan dirinya sendiri di fasilitas FedEx Corp di Indianapolis pada Kamis (15/4). Peristiwa ini setidaknya adalah kejadian kelima dalam beberapa minggu.

Sejauh ini Biden telah mengambil langkah terbatas untuk memperketat peraturan senjata federal dan telah meminta lebih banyak uang untuk mengatasi masalah tersebut. Dia harus membujuk anggota Kongres dari Partai Republik agar setuju untuk mengambil langkah yang lebih signifikan.

Meyakinkan anggota legislatif dari Republik adalah tantangan besar mengingat upaya legislasi sebelumnya telah berulang kali terhenti selama dekade terakhir. House of Representatives yang dikendalikan Demokrat tahun ini mengesahkan undang-undang untuk memperluas pemeriksaan latar belakang bagi pembeli senjata, tetapi menghadapi penolakan besar di Senat.

Mayoritas anggota Senat dari negara-negara pedesaan dengan kepemilikan senjata tersebar luas. Namun, Demokrat dan Republik di Senat sedang membahas kemungkinan kompromi. Kongres belum menerima usulan larangan senjata serbu Biden, meskipun beberapa negara bagian telah memberlakukan larangan tersebut.

Dengan sekitar 121 senjata api untuk setiap 100 penduduk, AS sejauh ini merupakan masyarakat dengan persenjataan paling berat di dunia. Jumlah kematian akibat senjata terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Sebuah kelompok penelitian, Gun Violence Archive,sekitar 43.539 orang Amerika meninggal karena kekerasan senjata tahun lalu, dengan lebih dari setengahnya karena bunuh diri. Setidaknya 30 orang telah meninggal dalam penembakan massal di AS pada bulan lalu saja. 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA